Apa saja hal yang dirindukan
ternyata telah disiapkanNya menjadi kenyataan di masa mendatang.
Maka rindukanlah terutama kebaikan.
Antara kebaikan sekecil apapun ternyata tidak boleh lepas sedetik pun dari niat yang benar, sebab seringan apa pun ia bisa berlipat nilainya di sisiNya. Akan tetapi ternyata besaran niat seindah apapun juga, ternyata butuh diusahakan seringan apa pun yang bisa diberikan sebab niat sebagaimana indahnya, ia hanya akan terbalas sebanyak satu kebaikan saja tetapi jika sudah teraplikasi maka kebaikan itu bisa berlipat-lipat balasanNya.
Suatu ketika ku melihat di sebuah televisi ada sebuah keluarga yang kembali membuatku untuk malu pada anugerah nikmatNya padaku. Sebuah keluarga yang tidak pernah tinggal menetap bahkan di sebuah gubuk kardus sekalipun. Kau tahu kawan di mana sepasang suami istri dengan kelima anaknya itu tidur ? Sang ayah tidur di emperan pelataran toko kala malam sudah membuat kegiatan jual beli itu terhenti dengan ketiga anak yang sudah lebih besar dari yang lain. Lalu sang ibu dengan kedua anak lainnya ternyata tidur di gerobak pemulung yang sehari-hari mereka gunakan untuk mengais rezekiNya.
Jangan bayangkan kenyamanan kasur ada pada mereka, hanya selembar kardus yang mereka jadikan alas untuk sekedar menghalau dinginnya lantai. Juga jangan bayangkan selimut tebal bersih juga hangat pada mereka, sebab pakaian yang melekat pada merekalah selimutnya. Juga jangan tanyakan pendidikan formal pada mereka, sebab mereka hanya berpikir tentang bagaimana menghilangkan lapar pada perut mereka.
Lalu apakah mereka lebih hina di sisiNya karena pekerjaan dan kondisinya ? Tentu saja Allah tidak melihat mereka dari fisik mereka tetapi dari hati mereka. Setidaknya mimpi mereka untuk berbahagia tidak membuat mereka gelap mata dan hati untuk mengais dari yang tidak diperbolehkan Allah bagi mereka. Ternyata dari banyak hal yang luput ku syukuri ternyata ada keluarga mungkin yang jauh lebih bisa mengerti arti nikmatNya pada sebutir nasi atau arti senyum ketika menemukan sebuah botol plastik bekas.
Lalu apakah kasih sayang kedua orangtua tersebut menjadi kecil untuk dibandingkan dengan kasih sayang orangtua pada umumnya yang jauh lebih mudah memilihkan pakaian terbaik juga makanan yang nikmat ? Tentu itu semua tidak bisa dibandingkan, sebab mereka berada pada kondisi yang berbeda satu sama lainnya. Jika ada yang membandingkan dengan rupiah lalu di mana nilai jerih payah keringat dalam teriknya mentari ketika mereka menyusuri setiap jalan panjang dari pagi buta hingga larutnya malam ?
Neraca keadilannya tiada pernah salah dalam menilai karena Allah tak akan salah dan apa yang Dia putuskan tidak pernah salah. Kerinduannya dalam naungan kebahagiaan di dunia ini niscaya sudah dibangunkan olehNya, namun Allah masih menginginkan sedikit saja kesabaran itu terlukiskan dalam hidup yang tak kekal ini. Allah tak akan menyalahkan mereka dalam ketiadaberdayaannya, namun Allah melihat juga menghargai mereka dalam sekecil apa pun kebaikan mereka.
Mungkin kitalah yang perlu belajar tentang kesabaran dan syukur hidup dari mereka, karena boleh jadi kita yang lebih miskin sabar juga syukur dari mereka.
Bagaimana kita bersyukur tentang nafas kita, sebab karena izinNya kita bisa bernafas bukan karena semata ada oksigen di sekitar kita. Lihatlah sesosok tubuh yang walau dialiri selang oksigen namun dirinya tak kuasa lagi bernafas.
Bagaimana kita bersyukur tentang makanan kita, sebab karena izinNya kita masih bisa merasakan nikmatnya makan bukan karena adanya makanan yang terhidang di depan kita. Lihatlah ada orang yang sulit sekali untuk mengunyah karena giginya banyak yang tanggal, lihatlah ada orang yang ternyata sedang sariawan, dll.
When everything we have is from Allah SWT. Then why then do we hesitate to give part of us back to Allah SWT?
Allah Maha Mengetahui apa pun yang akan terjadi, Maha Mengetahui segala yang tidak diketahui, dan Maha Kuasa untuk memberi tahu atau mencegah perbuatan apa pun sekehendak-Nya. Dan Dia menjanjikan akan menolong orang yang berdo’a, berharap, juga meminta kepada-Nya dan janjinya ini pasti benar, subhanallah, sungguh Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. “Innallaha la yuhliful mi’aad.” (Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya) (QS. Ali-Imran: 9).
Ketika kita tak kuasa terlelap karena didera kantuk yang teramat sangat namun Allah tak pernah tertidur dan lalai meski hanya sekejap. Ketika kita berharap setinggi Himalaya padaNya namun Allah kuasa memberi lebih dari semesta raya. #Beruntungnya kita ^^
