Doa dan empati untuknya

Kata-kata Terbaik

Tiba-tiba dikagetkan oleh suatu hal yang kurang menyenangkan sore hari ini. Beberapa komentar aneh dari sesorang yang tidak pernah ku mengerti mengapa tiba-tiba terlayang begitu saja di beranda Facebook. Ternyata setelah dikonfirmasi ada ketidaksanggupannya dalam mengelola dirinya sendiri oleh karena sesuatu hal yang tidak diketahui hingga kini. Hal itu membuat dirinya memiliki kebiasaan berbicara dengan dirinya sendiri, entah itu umpatan atau pujian. Dalam pikiran ku kini tentangnya adalah bagaimana jika orang lain tidak mengerti ketidakmampuannya, lalu memarahinya ?

Lagi-lagi benar kesabaran itu dimulai dengan pengetahuan. Ketika kita hendak bersabar akan sesuatu hal yang kurang menyenangkan cobalah cari jawabnya atau penyebabnya karena boleh jadi ada hal yang belum kita ketahui. Seperti di dalam kisah al-qur’an pada surat Al-Kahfi 66-69.

Musa berkata: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.”

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Ketika pun Rasulullah dicaci secara sadar bahkan terlukai fisik oleh penduduk Thaif beliau tidak pernah marah kepada mereka. Ia mencontohkan untuk mendoakan mereka meski mereka sudah secara sadar berlaku tidak menyenangkan kepada Rasululla, berharap jika mereka tidak berubah setidaknya anak cucunya yang akan mengikuti jejak risalahnya itu. Sebenarnya ternyata boleh jadi mereka yang berlaku tidak menyenangkanlah yang jauh lebih berhak untuk mendapat doa, sebab mereka tengah berada di dalam ketidakmampuan mengontrol diri mereka sendiri atau lebih parahnya jika sadar maka secara sadar mereka tengah mendzolimi diri mereka sendiri. Bukankah ketika seseorang berbuat baik maka kebaikannya akan kembali berpulang kepada dirinya begitu pula sebaliknya ?

Jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika ada seseorang yang juga sama sepertinya mengalami gangguan, tiba-tiba ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di tepian jalan. Dirinya yang sendiri dalam sakitnya itu ternyata secara tidak disangka meninggal malam hari itu. Tiada seorang keluarga pun berada di dekatnya pada saat kejadian itu. Akhirnya jenazahnya di sementara disemayamkan di mesjid sembari menunggu warga merapihkan rumahnya yang penuh dengan ilalang.

Kejadian itu kembali menegaskan betapa lembutNya Allah kepada setiap makluk ciptaanNya. Betapa Allah langsung yang mengurus hambaNya yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Coba bayangkan ketika ia meninggal di dalam rumahnya, bukankah tidak ada orang yang akan tahu sampai bangkainya tercium ? Pun dengan kasih sayangNya Allah menggerakan  para warga yang notabenenya bukan keluarganya menyiapkan segala yang dibutuhkan dalam prosesi pemakaman secara layak.

Intinya ternyata ketika kita berbuat baik sekalipun kepada mereka yang tidak mampu membalas kebaikan maka ada Allah yang tidak pernah lalai sekejap pun atas kebaikan yang kita lakukan. Jadi jangan ragu mengucapkan kata-kata terbaikmu kawan :)

*Kuselipkan doa juga rasa empati atas ketidaksanggupannya. Bukankah Allah tidak membebani di luar rasa sanggupnya ?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s