Two_Tree_in_Nature

Tentang Ayah dan Calon Ayah

Ketika kemarin menulis beberapa artikel tetang wanita dan ibu, saat ini mencoba untuk menulis tentang sesosok ayah, berharap bisa bermanfaat entah bagi para ayah atau calon ayah juga bagi para ibu dan calon ibu. Ketika membeli sebuah buku Parenting, jujur niat tersebut hadir bukan karena sudah menjadi seorang ibu tetapi membaca sebuah kalimat di dalam kata pengantar dari seorang ayah yang mengungkapkan betapa seharusnya ia membacanya jauh hari sebelum benar-benar menjadi seorang ayah. Lalu kaitannya dengan seorang wanita adalah ketika kita tahu contoh keteladanan ayah yang baik seperti apa maka kita pun bisa memiliki gambaran jalan menuju ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak itu seperti apa. Bahkan jauh lebih baik jika belum terikat oleh siapa pun atau mengetahui siapa dirinya. Oke Bismillah ^^

Sering kita mendengar seorang ibu ketika mungkin tak tahu lagi harus berkata apa kepada anak mereka, ia hanya berkata, “nanti kasih tahu ayah ya?” atau mungkin seperti, “Jangan nak, nanti di marahi ayah loh.” Ajaibnya memang mereka berhenti melakukan hal yang diperintahkan oleh ibunya taukah mungkin pengasuhnya di rumah.

Pernahkah bertanya kawan tentang fenomena itu? atau pertanyaan apa yang timbul dari perkataan tersebut dari orang-orang di sekitar kita ? Ternyata arahan seorang ayah memiliki kedudukan yang penting dan tak tergantikan oleh pengasuh atau ibunya saja. Ada sebuah artikel yang pernah ku baca, di dalamnya menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an percakapan antar ibu dan anaknya hanya terdapat 2 kali sedangkan percakapan antara ayah dan anak terdapat 14 kali. Wow satu berbanding tujuh yah ?

Kita baca bagaimana pendapat Ibnul Qoyyim tentang ayah;

“Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah”.

Nah loh ^^

Jika di dalam kitabNya Allah mengabadikan percakapan Ayah Luqman dengan anaknya, kemudian Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail cukuplah menjadi pengingat bagaimana seorang ayah berinteraksi kepada anak-anaknya dengan kasih sayang dan lemah lembutnya.

Pastinya di dunia ini mana ada seorang ayah yang tidak ingin menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, bukan begitu kawan? Tetapi di dalam keinginan manusia ada hukum Allah yang bermain di dalamnya yaitu sunnatullah. Lalu apa itu sunnatullah ?

Sunnatullah itu bukan hanya yang sudah biasa atau diketahui manusia, sebab sunnatullah yang disingkapkan oleh Allah kepada manusia hanya sedikit saja sesuai dengan kadar kemampuan mereka juga kesiapan mereka dalam rentang waktu yang panjang (Sayyid Quthb).

Lalu kesiapan dan kemampuan seperti apa yang perlu dibangun bukankah tidak seluruh orang yang mampu terpanggil berbuat kebaikan tetapi Allah memampukan setiap orang yang hatinya benar terpanggil ? Yah jawabnya adalah hati yang kuat bertekad menjadi ayah yang baik untuk mendidik anak-anak yang baik di dunia dan akhiratnya. Hati yang penuh dengan keinginan yang benar akan kebaikan yang dicontohkan oleh Allah melalui karakter para ayah di dalam kitabNya.

Ada seorang ulama yang mengatakan ;

Keinginan mereka pun beragam, sebanyak ragam tingkatan mereka. Ada yang menyelam di “kedalaman lautan” untuk mendapatkan mutiara-mutiara yang besar, yang lain cukup puas dengan apa yang mereka dapatkan di permukaannya saja (Sa’id Hawwa).

Aku suka kutipan Imam Al-Ghazali berikut ini ;

Anak adalah amanat di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu. Apabila dibiasakan dan diajari dengan kebaikan, maka dia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Dampaknya kedua orangtuanya akan hidup bahagia di dunia dan akhirat. Semua orang dapat menjadi guru dan pendidiknya. Namun apabila dibiasakan dengan keburukan dan dilalaikan, seperti dilalaikannya hewan pasti si anak akan celaka dan binasa. Dosanya akan melilit leher orang yang seharusnya bertanggung jawab atasnya dan menjadi walinya.

Oleh karenanya kita mencoba belajar dari cotoh ayah sepanjang zaman yaitu, seorang ayah yang bergelar bapaknya para nabi yakni nabi Ibrahim as. Beliau seorang ayah yang memiliki visi jauh ke depan juga besar bagi anak-anak dan keturunannya. Bisa kita lihat dari lantunan doa-doanya di al-Qur’an surat Ibrahim ayat 35-41;

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”

Ketika kita kembali menelisik sejarah hidup Nabi Ibrahim, maka kita akan menemukan seseorang yang sebelum ia menjadi seorang ayah, ia adalah seorang anak yang begitu santun kepada ayahnya sendiri, meskipun ayahnya adalah seorang yang musyrik. Artinya salah satu ciri karakter ayah yang baik ternyata dapat dilihat dari bagaimana karakternya sebagai seorang anak bagi kedua orang tuanya. Sebab sebagaimana mereka memperlakukan orangtuanya maka ia akan diperlakukan oleh anaknya kelak. Bersyukurlah kini bagi yang sudah banyak bertaubat karena kurangnya rasa baktinya terhadap orang tuanya sebelum menjadi orang orang tua.

Kemudian karakter selanjutnya adalah jauh hari sebelum ia menjadi seorang ayah, Nabi Ibrahim di uji dan dilatih kesabarannya dengan masa penantiannya dalam kerinduan menimang seorang anak. Namun ia tidak pernah jemu berdoa untuk memilikinya. Masa yang panjang itulah yang membuatnya ketika memiliki anak ia mendidiknya dengan baik. Kita bisa mulai melihat dan membedah kandungan dan maksud dari doa-doanya di atas ;

Doa-doa itu terucap dari lisannya ketika ia meninggalkan Siti Hajar dengan Ismail di tanah gersang sebagai jalan menuruti perintahNya. Bukankah itu bentuk indah tawakal kepadaNya ? Ketika ia harus berusaha menjaga kecenderungan keikmatannya menjadi ayah dengan berada dekat selalu dengan puteranya itu tetapi hal itu tidak melalaikannya dari ketaatannya kepada RabbNya. Ketika ia berada di dalam kekhawatirannya maka ia menyerahkan semuanya dengan berdoa, dengan doa yang begitu dalam maknanya;

Pertama, Ia meminta lokasi atau lingkungan di mana anaknya bertempat tinggal adalah lokasi yang aman juga baik, dalam hal ini lokasi yang dekat dengan baitullah. Aman dari segala marabahaya yang akan menimpanya dalam hal ini lokasi terdekat dengan baitullah agar anak keturunanannya terbiasa untuk mendirika sholat. Bukankah itu juga terkait dengan pembiasaan bagi anak ? Ketika seorang anak terbiasa dengan lingkungan yang baik maka ia akan memiliki akar kebaikan yang kuat. Begitu juga sebaliknya ketika ia terbiasa dengan lingkungan yang gemar dengan keburukkan dan kesia-siaan maka ia akan menggangap keburukan dan kesia-siaan itu adalah kebolehan atau malah sebagai kebaikan juga prestasi yang membanggakan.

Kedua, Ia berdoa agar anak dan keturunannya terlindung dari bahaya aqidah yang membahayakan dunia dan akhiratnya. Sebab aqidah adalah pondasi kebaikan seorang hamba dan nilai pembeda antara ahli neraka dan ahli surga. Nikmat imanlah yang terbesar dibandingkan dengan nikmat beramal sholeh. Oleh karenanya ia berharap anak dan keturunannya memiliki aqidah yang baik.

Ketiga, Ibadah. Justru ditengah kegundahan anaknya diletakkan di padangan tandus dengan sedikit perbekalan makan dan minum ditambah anaknya yang masih sangat bayi itu bukan kenikmatan dunia yang ia dahulukan untuk diminta, tetapi nikmat beribadah kepadaNya. Ibadah yang dimintanya pun begitu spesifik, yakni sholat. Bukankah kelak yang paling pertama dimintakan pertanggungjawaban adalah tentang sholatnya ? jika baik sholat seorang anak manusia maka baiklah segalanya ?

Keempat, Akhlak. Tercermin dari keinginannya agar anak keturunannya memperoleh kecederungan hati dari para manusia lainnya. bukankah rasulullah berkata, tiada yang paling banyak memasukan manusia ke dalam surganya kecuali dengan akhlak yang baik ? Bukan saja sholeh secara pribadi tetapi ia memiliki akhlak yang baik sehingga disukai oleh manusia lainnya, dinantikan kehadirannya, dirasakan besar kebermafaatannya.

Kelima, nikmat duniawi. Setelah aqidah, ibadah, juga ibadah maka Nabi Ibrahim pun tidak menafikan bahwa ketika ia menginginkan anaknya dalam kebaikan maka ia berharap terhidar dari kefakiran agar mereka pun dapat selalu beribadah dengan baik dan memberikan kebermanfaatan yang besar bagi sekitar.

Keenam, syukur. Target dan tujuan selanjutnya kepada anaknya adalah rasa syukur yang terhujam di dalam diri mereka. Bukankah segala kebaikan yang ada pada mereka adalah nikmat dariNya yang harus disyukuri agar bertambah nikmatNya juga terhidar dari kesombongan yang berbalas azabNya ?

Ketujuh, Keistiqomahan. Setelah di awal ia berdoa agar anaknya terbiasa dengan ibadah sholat, maka doa selanjutnya adalah keistiqomahan dalam beribadah, yakni sholat.

Kedelapan, ampunanNya. Terlebih bagi orangtua biasa bukankah sangat mungkin ada kekurangan dan kekhilafan dalam menjalankan amanahnya sebagai orang tua yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hari penghitungan ? Itulah rasa khawatirnya yang jauh hari ia bangun sewaktu anaknya masih bayi.

Doanya adalah visi besarnya sebagai seorang ayah.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s