Bismillah

SinarNya Mengusir Resah

SinarNya Mengusir Resah
Bienennest, 22 Januari 2012 

Terbitnya mentari langit jiwa
Sibakan ragu menggulita
Tulus pun berbinar ke angkasa
Menebar semerbaknya di udara

Jauhnya gemintang tetap bersinar
Terang benderang terpancar
Tanpa sembunyi memudar
Kokohlah syukurnya sabar

Riuhnya hati berfatwa setelah badai
Melerai duka menghimpun damai
Amati mengukir rangkai
Lingkari hangatNya tertuai

CintaNya sahydu melipat-lipat resahku
Mengutip rona senyapnya lugu
Tanda kebesaran terkasihku
Tuk sampaikan salam atas doa itu

Ketika manusia mencinta maka ia menginginkan (kebaikan) yang ia cinta bagi dirinya sendiri. Akan tetapi jika Allah yang mencinta hambaNya maka Allah menginginkan (kebaikan) hambaNya teruntuk hambaNya sendiri (Ibnul Qoyyim Al-Jauzi).

Masih jauh dari fasih, masih pula terbata mengeja cinta di langit jiwa untukNya. Sempurna seluruh cinta makhluk tiada menambah muliaMu tetapi Engkau selalu sempurna mencinta. Bantulah kami ya Allah untuk menyelam dalam indah di samudera cinta juga ridhaMu.

Allah Engkau melihatku, juga memperhatikanku, dan dekat bersamaku. Ya Allah lindungi aku dari kesombongan terhadap setiap kuasa dan kehendakMu. Ku menyertakanMu dalam langkahku karena tiada yang lebih menginginkan kebaikan terjadi padaku selain DiriMu sebagaimana Engkaulah yang paling ingin agar keburukan itu terhidar dariku. Tanda-tanda kebesaranMu akan terasa terlalu sempit memiliki naungan dalam nalar logika manusia juga terlalu mahal bahkan untuk sekedar tergadai dengan bilangan seluruh dunia beserta isinya.

“Rabbanaftah baynanaa wa bayna qowminaa bilhaqqi wa anta khoirul faatihiin.”

“…Inilhukmu llla lillah, ‘alaihi tawakaltu, wa ‘alaihi falyatawakkalil mutawakiluun”

Al-Hakam sebagai sifat Allah bermakna, Dzat yang memutuskan hukum di antara manusia dan mencegah dari kerusakan satu sama lain dengan syariatNya. Allah adalah Yang Maha Memutuskan hukum. Artinya, Dialah sumber hukum dan pembuat hukum dalam kehidupan ini dengan sempurna sebagai pedoman.

Imam Al-Ghazali mengembangkan makna sifat Al-Hakam hingga ke persoalan tetang qadha dan qadar-Nya. Bahwa, Allah mengatur dengan menetapkan sebab-sebab yang mengantar kepada terjadinya akibat dan bersifat pasti, langgeng, juga tidak berubah hingga waktuNya. Ini seperti peredaran bumi dan benda langit di alam raya. itulah yang dinamakan qadha, lalu Allah juga mengarahkan sebab-sebab tersebut, yakni mengerakkannya dengan pergerakan yang sesuai dan dengan kadar yang penuh, menuju akibat-akibatnya yang terjadi dari saat ke saat. Dan inilah qadharNya.

Para ulama lain memaknai sifat Al-Hakam sebagai Dia yang melerai dan memutuskan kebenaran dari kebatilan, yang menetapkan siapa yang taat dan durhaka, serta Yang memberi balasan setimpal bagi setiap usaha. Semuanya berdasarkan ketetapan yang ditetapkanNya.‎

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s