Lihat dahulu ke dalam relung hatimu

Lihat Dirimu Lebih Dulu

Suatu ketika di sore hari yang mendung tiba-tiba ada seorang anak laki-laki menggunakan jaket timnas yang perlahan-lahan menghampirinya dengan mengatakan, “Permisi kak, boleh saya minta tolong ?”

Ia menjawab, “minta tolong apa ?”

Lalu sang anak kecil itu pun berkata, “Saya mau ke Bandung, tapi ongkos saya kurang Ka”

Mengerti pintanya, “ini” jawabnya sambil mengeluarkan selembar puluhan ribu untuknya. Ia pikir masih ada uang ribuan bagi dirinya sendiri untuk sampai ke rumahnya, jadi tak masalah baginya. Allah pun akan menggantinya kelak dengan balasan yang lebih baik. Teringat dahulu pun sewaktu sekolah pernah lupa membawa uang saku, alhasil harus meminta tolong kepada penumpang angkutan kota lainnya untuk membayarkan tarif angkot kala itu. Tidak besar memang, tetapi ketika meminta itu pada orang lain di tengah kepanikan ternyata bukanlah hal yang mudah. Berharap anak itu pun dapat segera pergi ke tempat tujuannya bersama dengan ibunya di sore hari itu.

Setiba di angkutan kota yang biasa ia naiki itu ternyata setelah ingin membayarnya, masih ada puluhan ribu yang terselip di dalam saku terdalamnya, seketika itu ternyata ada rasa kasihan untuk anak tadi jika saja tahu masih ada uang lebih yang ada mungkin ia tak harus lebih banyak meminta kepada orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Tapi ternyata Allah berkehandak lain pada saat itu.

Dua minggu berselang setelah kejadian sore itu, ketika ia sedang duduk di pelataran mesjid kampus yang sedang sepi tetapi di ramaikan hujan itu tiba-tiba ada seorang anak yang dengan takut-takut pun menghampiri lalu berkata, “Permisi kak, boleh saya minta tolong ?”

Terdiam sebentar sebari menatap mata anak itu lalu bertanya, “Mau ke Bandung ya ?”

“Kok tahu ?” agak terkejut ternyata anak tersebut dengan pertanyaannya.

“Iya, dari dua minggu yang lalu belum bisa berangkat ya?” Tanyanya untuk anak itu.

“iya uangnya belum cukup kak jadi belum bisa berangkat.” Jawabnya dengan dua bola mata yang terlihat agak mengiba itu.

Itulah ingatannya yang berusaha ia hadirkan sebelum menutup harinya dengan lelapnya tidur, ternyata ada banyak evaluasi yang benar-benar ia harus lakukan. Teringat perakataan umar, “Hisablah dirimu sebelum Allah yang menghisabmu.”

Ternyata apa yang sangat ingin kita ketahui terkadang harus kita pikirkan baik-baik sebelum ditanyakan kepada orang lain. Jangan sampai orang tersebut baik yang sudah kita kenal atau sama sekali belum kita kenal tidak merasa enak hati ketika menjawabnya atau pun mendiamkannya. Seketika itu ia pun teringat sebuah ayat ;

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263)

Memang sangat benar ternyata jalan menuju taqwa itu sangat penuh dengan onak duri sehingga sangat memerlukan kehati-hatian kita untuk menuju kesana. Seperti halnya dengan pembelajaran memberi dalam hidup ini, lagi-lagi Allah yang menunjukkan betapa Allah adalah sebaik-baiknya pemberi. Allah selalu memberi tanpa pernah menanyakan terlebih dahulu untuk apa ia meminta, bahkan sekali pun pinta kita sebagian besar tidak kita kembalikan untuk beribadah kepadaNya tetapi ia tetap saja memberi apa yang kita minta. Ehmm… betapa penyantunNya Allah pada kita, terima kasih ya Allah, Engkaulah sebaik-baiknya pengajaran ^^

Bukankah nabi Musa pun belajar kesabaran dari keingintahuan yang begitu besarnya sebelum masanya dari seorang gurunya ? Seorang Nabi pun masih mencontohkan untuk berguru kepada seseorang yang telah ditunjukkan Allah tentang pembelajaran yang terdapat banyak hikmah di dalamnya. Salah satunya adalah hikmah kesabaran atas rasa keingintahuannya, sebab keingintahuan itu bisa berpeluang kepada keburukan prasangka jika tak pandai mengelola bulir kesabaran.

Contohnya tentang prasangka kemungkinan bohong yang anak itu lakukan, atau prasangka mengapa ada ibu yang tega meminta anaknya untuk meminta kepada orang lain dengan disertai sandiwara ?

Jika mengikuti pertanyaan-pertanyaan itu semua lagi-lagi kita harus berhati-hati dalam menghakimi mereka. Pastinya ada penyebab mengapa mereka melakukan itu semua, tetapi terkadang sesama manusia kita lebih mudah untuk menghakiminya tanpa bukti terlebih menghakimi dengan membenarkan menurut pembenaran hawa nafsu kita tentang mereka. Jangan-jangan ketika sebenar-benarnya penghakiman itu akan kembali pada diri kita masing-masing.

Ketika mereka meminta kepada orang lain mungkin mereka tidak sanggup membiayai diri mereka sendiri. Kita tidak boleh membebankan kesalahan pada sang ibu yang mengapa ia tidak bekerja untuk memberikan nafkah pada anaknya, karena dalam Islam kedudukan kewajiban memberikan nafkah ada pada diri ayah termasuk nafkah bagi ibu anaknya selama mereka menikah dalam ikatan yang sah dalam Islam. Jika pun sang ayah meninggal, maka kewajiban menanggung nafkah bagi sang anak yang yatim menjadi tanggungan keluarga pihak ayah, entah itu sang kakek, atau saudara dari ayahnya dan bukan menjadi kewajiban sang ibu tersebut. Terkecuali jika terjadi perceraian dengan tuduhan perselingkuhan, maka galur nasab anak akan menjadi galur nasab sang ibu dan ibulah yang menanggung nafkah bagi sang anak. Atau jika sang anak lahir dari hubungan di luar nikah, maka anak itu menjadi tanggung jawab penuh ibu yang melahirkannya dalam hal nasab, nafkah, juga waris.

Jika cakrawala kita perlebar kepada tatanan bermasyarakat, sudahkah tetangga disamping rumahnya telah memberikan sebagian yang mereka nikmati kepada anak dan ibu tersebut ? Atau sudah terlalu sering mereka menahan liur karena rasa lapar mereka ditambah dengan hutang yang bertumpuk ? Atau pada mereka yang berkategori mampu berzakat, sudahkah zakat mereka mencakup mereka dan memberikan dana peluang usaha mandiri bagi mereka ?

Atau jangan-jangan ada terselip kekurangan kita menyebarkan atau mengajarkan bagaimana kedudukan seorang ibu dan wanita dalam islam sebenarnya, hingga mereka merasa apa yang mereka kerjakan itu adalah kebolehan dalam bertahan hidup. Bukankah seorang yang berilmu itu terbagi menjadi tiga golongan yaitu, orang yang berilmu dan memberikan manfaatnya bagi orang lain, ada juga orang yang berilmu tetapi hanya untuk dirinya sendiri tanpa ia bagi, atau pun ia sendiri tidak memberikan manfaat bagi dirinya sendiri atas ilmu yang dimilikinya atau ia sendiri menjadi tidak bermanfaat karena sedikit ilmu yang diketahuinya.

Ada nasehat indah dari Aagym pagi ini ;

“Jangan anggap remeh sepatah kata “

Yakinilah bahwa setiap patah benar-benar didengar Allah dan pasti ada perhitungannya
Pastikan setiap kata kita ucapkan dengan sadar dan bisa dipertanggung jawabkan
Lebih baik diam daripada berkata sembarangan yang bisa berakibat fatal seperti yang disabdakan Rosul ;

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّ

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhari, no. 6478].

Semoga Allah mengaruniakan lisan yang senantiasa terjaga dan bisa menghantarkan kita menjadi ahli surga.Aamiin

Allahu Rahman…

Engkau tunjukkan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, betapa besarnya harapan ini jika kami termasuk ke dalam golongan orang-orang itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s