Awakening_to_life

Hanya Satu

Ada sebuah hadist yang begitu panjang tetapi sangat berkesan untuk kembali mengingatkan tentang kedudukanNya dalam hati kita. Tentang bahaya menduakannya terlebih menggantikan kedudukannya. Tentang bagaimana ikhlas menjadi pembeda kualitas amal kita. Tentang tanda pengakuannya adalah sujud kita, adakah itu terjadi dengan segala ketundukan hati yang jenih dan bening tanpa sedikit riya atau ego manusia kita. Tentang jembatan yang akan kita lalui ternyata ada begitu banyak halangannya dan begitu menyeramkan rupanya. Tentang kebaikan ketika memiliki saudara seiman yang bersaksi dan mendoakan sebagian yang lain agar terselamatkan dari neraka. Tentang kebaikan-kebaikan ringan yang mengugah kedermawananNya untuk memaafkan segala kesalahan dan menggantikan siksaan dengan kebahagiaan.

Sekelompok manusia di masa nabi bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah kami melihat Rabb kami pada hari kiamat ?

Beliau menjawab, “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat matahari di siang hari yang terang tanpa awan ?”

Mereka menjawab, “Tidak ya Rasulullah.”

Beliau pun berkata, “Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awannya ?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Lalu beliau bersabda, “Tidaklah kalian berdesak-desakan dalam melihat Rabb kalian, melainkan sebagaimana kalian (tidak) berdesak-desakan dalam melihat satu dari keduanya. Pada hari kiamat, seorang penyeru akan menyerukan, ‘Hendaklah setiap umat mengikuti sesuatu yang dahulu mereka sembah’, hingga tidaklah ada seorang pun yang menyembah selain Allah berupa berhala dan patung melainkan mereka akan terjerumus ke dalam neraka, hingga tidak ada yang tersisa seorang pun kecuali orang yang menyembah Allah; baik itu orang yang baik dan buruk, dan sisa ahli kitab,

Lalu orang yahudi dipanggil dan ditanyakan kepada mereka, ‘Apa yang dahulu kalian sembah ?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah Uzair putera Allah.’ Maka dikatakan, ‘Kalian telah berdusta, Allah tidak menjadikan istri dan anak. Lalu apa yang kalian inginkan ? mereka menjawab, ‘Kami haus wahai Rabb kami, maka berilah kami minum.’ Lalu mereka diberi isyarat pada sesuatu yang membuat mereka hilang dahaganya. Kemudian mereka digiring sampai di neraka. Seakan-akan fatamorgana mereka memukul sebagian yang lain lalu mereka terjerumus ke dalam neraka.

Kemudian kaum nasrani dipanggil, lalu mereka ditanya, ‘Apa yang dahulu kalian sembah ?’ mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah al-Masih, putera Allah.’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Kalian telah berbohong.  Allah tidak mengambil istri dan anak.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Apa yang kalian inginkan ? mereka menjawab, ‘Kami haus wahai Rabb kami, maka berilah kami minum.’ Beliau bersabda Lalu mereka diisyaratkan kepada mereka, ‘Tidakkah kalian minum ?’ dan mereka dikumpulkan di neraka Jahanam, seakan-akan (itu hanya) fatamorgana mereka memukul satu sama lain, lalu jatuh ke dalam neraka, hingga tidak tersisa melainkan orang yang menyembah Allah dari kalangan baik dan fajir.

Allah lalu mendatangi mereka dalam bentuk yang paling ringan yang dapat mereka lihat. Allah berfirman, ‘Apa yang kalian tunggu, padahal setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah ?’

Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami memisahkan diri dari manusia di dunia ketika kami membutuhkan apa yang kami butuhkan kepada mereka, akan tetapi kami tidak berteman dengan mereka.’

Maka Allah berfirman, ‘Aku adalah Rabb kalian.’

Maka mereka berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dariMu, kami tidak akan tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatupun.’ Mereka ucapkan dua kali atau tiga kali, sehingga sebagian mereka hampir-hampir berbalik,

Maka Allah bertanya, ‘Apakah di antara Dia dan kalian ada tanda-tanda itu ?’

Mereka menjawab, ‘Ya’

Maka disingkaplah betisNya, sehingga tidak tersisa orang yang sebelumnya bersujud kepada Allah dari dalam dirinya (ikhlas) kecuali Allah izinkan baginya untuk bersujud. Dan tidak tersisa kecuali orang yang sebelumnya bersujud karena ego dan riya’ kecuali Allah jadikan punggungnya menjadi satu lipatan, setiap kali hendak bersujud maka ia tersungkur di atas tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepalanya dan Allah telah berubah ke bentuk yang dapat mereka lihat pertama kalinya.

Allah berfirman, ‘Aku adalah Rabb kalian.’

Maka mereka berkata, ‘Engkau Rabb kami.’

Kemudian dibentangkan jembatan di atas Jahannam, dan berlakulah syafaat pada masa itu. Mereka bergumam, ‘Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.’

Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jembatan itu ?’

Beliau menjawab, ‘tempat yang licin dan menggelincirkan, disana terdapat besi-besi pencakar, besi-besi pengait, dan duri besi yang terbuat dari pohon-pohon berduri. Maka orang-orang mukmin akan melewatinya seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda-kuda yang berlari kencang, dan hewan tunggangan. Maka orang muslim akan ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik tertunda, dan ada yang terlempar ke neraka jahannam. Sehingga orang mukmin yang terbebas dari neraka, maka demi Dzat yang demi jiwaku berada ditanganNya tidaklah salah seorang dari kalian yang begitu gigih memohon kepada Allah di dalam menuntut al haq pada hari kiamat untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka, mereka berseru; ‘Wahai Rabb kami mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami’

Maka dikatakanlah kepada mereka, ‘keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui’

Maka bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya.

Kemudian mereka berkata lagi, ‘Wahai Rabb kami tidak tersisa lagi seorang pun yang telah Engkau perintahkan kepada kami.’

Kemudian Allah berfirman, ‘Maka kembalilah kalian, barangsiapa yang kalian temukan di dalam hatinya kebaikan seberat dinar maka keluarkanlah ia.’

Mereka pun mengeluarkan dengan jumlah yang begitu banyak. Kemudian mereka berkata lagi, ‘Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya seorang pun yang telah Engkau perintahkan.’

Allah kemudian kembali berfirman, ‘kembalilah kalian maka barangsiapa saja yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji jangung, keluarkanlah’

Mereka pun kembali mengeluarkan jumlah yang begitu banyak. Kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya kebaikan sama sekali.’

Abu Said Al-Khudri berkata, “jika kalian tidak mempercayai hadist ini silahkan baca ayat: (Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah dan jika ada kebaikan seberat zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan di sisiNya pahala yang besar QS. An-Nisa : 40)

Allah lantas berfirman, ‘Para malaikat, nabi, dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafaat , sekarang yang belum memberikan syafaat adalah yang Mahapengasih .’ Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari dalam neraka, dari dalam tersebut Allah mengeluarkan suatu kaum yang sama sekali tidak melakukan kebaikan dan mereka pun sudah berbentuk arang hitam. Allah kemudian melemparkan mereka ke dalam sungai di depan surga, yang disebut dengan sungai kehidupan. Merka kemudian keluar dari dalam sungai layaknya biji yang tumbuh di aliran sungai, tidakkah kalian lihat ia tumbuh (merambat) dibebatuan atau di pepohonan mengejar (sinar) matahari. Kemudian mereka (yang tumbuh layaknya biji) ada yang berwarna kekuningan dan kehijauan, sementara yang berada di bawah bayangan akan berwarna putih.’

Para sahabat kemudian bertanya, ‘Seakan-akan baginda mengembala di daerah orang-orang badui?’

Beliau melanjutkan,’mereka kemudian keluar seperti mutiara, sementara di lutut-lutut mereka terdapat cincin yang bisa diketahui oleh penduduk surga. Dan mereka adalah orang-orang yang Allah merdekakan dan Allah masukan ke dalam surga tanpa kebaikan sama sekali.

Allah kemudian berkata, ‘Masuklah kalian ke dalam surga. Apa yang kalian lihat maka itu akan kalian miliki.’

Mereka pun menjawab, ‘Wahai Rabb kami, sungguh Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun penduduk bumi.’

Allah kemudian berkata, ‘(bahkan) apa yang telah kami siapkan untuk kalian lebih baik dari ini semua’

Mereka kembali berkata,’Wahai Rabb apa yang lebih baik dari semua ini ?’

Allah menjawab, ‘RidhaKu, selamanya aku tidak akan murka kepada kalian.’

Sebuah hadist yang cukup panjang ya kawan :) terletak pada kitab Shahih Muslim no 269.

Dari penggalan hadist di atas, bukankah menjadi cerita yang penuh dengan pengingatan tentangNya yang satu ?
Tentang mengingatkan kita, sudahkah banyak kebaikan yang kita torehkan dalam setiap waktu yang kian lama kian menipis ini ?
Ataukah itu semua hanyalah kebaikan yang semu atau kebaikan yang kita anggap baik ? padahal mungkin di dalamnya ada riya, sum’ah yang menghapus nilainya di sisiNya ?
Adakah yang bisa menjamin, kita yang termasuk ke dalam golongan mukmin yang memberikan syafaat atau kita lah yang kelak berharap syafaat ?

Terlalu banyak pertanyaan yang hanya akan terjawab kelak pada masanya kita bertemu denganNya ya kawan…

itulah mengapa keimanan menjadi nikmat terbesar bukan nikmat beramal itu sendiri. Begitu pengasihNya Allah, ketika tiada torehan kebaikan karena hawa nafsu kita atau godaan syetan selama kita tetap mengimaniNya yang satu ia tetap memberikan kasihNya bagi kita. Itulah mengapa janganlah kita mati kecuali dalam Islam.

Ya Allah berikanlah kami kekuatan iman hingga bertemu denganMu ^^ aamiin Allahumma aamiin

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s