Bahasa Mengapa
Oleh, Bienennest
Pernahkah kau bertanya entah mengapa?
Ku enggan mengejamu kata perkata
Itu bukan karenaku tak bisa membaca atau tak kenal hurufnya
Hanya menjauh dari gejolak khayal semunya rasa, juga takut kan luka
Tak inginku mengusik bisu kelabu lalu membiru
Agar tak terulang rindu pilu meragu
Dalam rupa wajah sayu nan sendu tergugu
Karena hatiku atau dirimu terjerat bayang-bayang semu
Beribu kata-katamu menjelma dalam ragam indahnya alinea
Tetap saja kuterdiam seraya tertahan deret-deret sapa
Bukan ku tak lagi peduli apalagi benci
Hanya teringat bahasa manusia tak lebih digdaya dariNya
Ku tahu bendera tekadmu berkibar menantang angkasa cita
Tetapi tetap ku enggan mendongak lama
Bukan ku tak ingin berdiri tegak menemani asa
Ragu hati ini masih berkemul maya tanpa sinarmu nyata bercahaya
Berlalunya sang waktu ingatkan dan yakinkanku
Sekeras apapun kau jatuh, yang sejati tetap saja memperjuangkanku
Sebab denting dekatnya hati selalu saja menyeru dengan seru
Berharap kelak tiba indah izinNya untuk menyatu
Ketika ku berdoa dalam harap cemas juga haru pada Rabbku
Bukankah gelombang rindumu itu mendayu luruh pada sujudmu ?
Dengarlah gemuruh tunggu itu lirih-lirih berbisik syahdu
Atau mungkin kita saja yang tak pernah saling tahu ?
WaktuNya tak akan salah dan selalu saja tepat
Tak pernah lambat atau terlalu cepat
Titipkan saja semua padaNya yang tak pernah salah atau tergugat
Tugas kita menyukurinya dalam taat
Jika memang cinta maka mencintalah karena dan untukNya
Dan tetaplah bersabar untuk bernaung dalam indahNya
Hanya kepada Dia sang MahadayaNya cinta
Berharaplah kita bersatu di dunia dan abadi dalam surga
Ku harap kini jangan pernah ada tanya lagi
Mengapa enggan itu menampakkan sepi
Jika memang ini pasti
RencanaNya akan terealisasi indah suatu masa nanti
Sabarlah dan kuatkanlah kepastian derap hati
Itulah pesan diam yang terpatri
Semoga dapat kau mengerti dan pahami arti berteman kini
Akankah takdir menempatkanmu di sisi, sungguh itu rahasia Illahi ?
Sekali lagi tak inginku menerka pesan tersiratmu
Pada ukiran makna kata juga perilakumu
Cukuplah sebongkah keberanianmu
Cerminkan seberapa tulus dalam yakinmu
Kupasrahkan semua itu pada kuasa Rabbku
Tentangmu dalam hidupku
Biarlah waktu yang menjadi saksi kesungguhanmu
Bila aku memang penenang gundahnya jiwamu kan ku sambut ikrar itu
Masyaallah, entah mengapa tiba-tiba bersyair, mungkin efek dari dua orang saudari yang telah bercerita hingga terinspirasi meski tak pandai merangkai semoga bisa diambil manfaatnya. Terlebih semoga Allah meringankan segala beratnya yang terasa oleh mereka dan Allah tetap menjaga hati keduanya.
Ya Allah bahagiakan mereka yang tengah resah dalam gundah terlebih jika sedih berbalut luka.
Ya Rabbi teguhkan mereka dalam sabar hingga ujian itu kian membuatnya tegar.
Ya Rahman Engkau sebaik-baiknya Penyayang di antara para penyayang.
Ya Malik Engkau yang merajai maka Engkau pula sebaik-baik yang menentukan
Aamiin
