“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Al-Qasas: 68)
Ku kira kehilangan sepatu hanya ada di cerita Cinderela atau pun kejadian di zaman dahulu jika ada yang kehilangan sepatu atau sandal di mesjid. Akan tetapi ternyata pada saat itu sekitar awal bulan sya’ban dalam rangka menyambut ramadhan, kehilangan itu menjadi giliranku. Mungkin dari sekian banyak para ibu yang hadir disana ada sepatu yang sama, mungkin lupa menempatkan kepunyaannya, atau mungki terburu-buru untuk pulang hingga tidak sengaja tertukar dll. Seketika itu tetap berupaya berpikir positif untuk siapapun di sana.
Bukankah sesama muslim kita diminta untuk saling berprasangka baik? bahkan ada seorang sahabat nabi yang berusaha mencari tujuh puluh kemungkinan kebaikan dari sahabatnya yang lain, kemudian setelah ia menemukan tujuh puluh kemungkinan itu ia berkata,”mungkin masih ada alasan lain yang tdak aku ketahui tentangnya.”
Setelah berprasangka baik, dilanjutkan tentang bagaimana menyikapinya. Rasanya malu sangat kalau harus pulang tanpa alas kaki bukan? Alhamdulillahnya, ada seorang kawan yang belum lama ku kenal dan ia pun mau membantuku untuk mencarikan sepasang sendal pengganti sepatuku itu.
Pada saat itu ada pelajaran berharga dariNya, aku kembali diingatkan bahwa kita harus mempercayai takdirNya yang baik atau pun takdir yang terasa buruk sekalipun, itu semua adalah ketetapanNya. Allah yang menciptakan kita maka Allah juga yang memilihkan setiap jalan hidup kita. Akan tetapi Allah jua yang memberikan sebaik-baiknya pertolonganNya.
Pelajaran lainnya adalah ketika kita kehilangan jangan dilihat penggantinya yang berkualitas baik secara fisik saja, dalam hal ini contohnya adalah ketika sepatu berganti sandal. Tetapi lihatlah Allah berupaya untuk mengajarkan kita dan melatih kita dalam bersikap atau melatih kita menimbang segalanya, entah itu kejadian remeh ataupun kejadian yang tampak besar. Pada saat itu yang terbersit bukan hanya sekedar tentang masalah diri ini sendiri yang kehilangan, tetapi juga berupaya untuk tidak membesar-besarkan masalah. Apakah jika melaporkannya akan memperoleh kembali yang hilang ataukah hanya akan timbul perasaan tidak nyaman bagi panitia tersebut ? Ataukah jika menyerbarluaskannya, bagaiamana jika ada orang lain yang membuat-buat prasangka yang tidak benar dan tidak perlu?
Suatu ketika ada seorang ustad yang menceritakan disuatu tempat ada sekelompok pemuda yang sholeh akan tetapi mereka melihat ada kelompok pemuda lain yang tidak sholeh memperoleh rizki yang lebih banyak dari mereka. Hingga terbersitlah di hati mereka untuk sengaja lalai. Akhirnya ternyata sewaktu mereka melaut dalam kelalaian mereka itu, tangkapan ikan hari itu sangat banyak ditambah dengan seekor ikan besar. Ketika ikan itu dibelah isi perutnya maka mereka menemukan sebutir mutiara yang indah kemilaunya. Maka mereka pun takut dan khawatir jangan-jangan itu semua perangkap syetan akan kelalaian mereka pada saat itu, lalu mereka pun membuang mutiara yang mahal harganya itu. Di hari lain setelah mereka kembali dalam ketaatan mereka, maka tangkapan mereka pun banyak dan kembali menemukan ikan besar yang di dalamnya ada mutiara yang dahulu mereka buang.
Inti cerita tersebut adalah, ketika Allah sudah menetapkan rezeki seseorang maka tidak ada yang sanggup menahannya. RezekiNya pun tidak berbatas ia lalai ataupun taat. Bukankah ada hadist yang menceritakan jika saja dunia dan segala isinya lebih baik dari sayap nyamuk maka Allah tidak akan memberikan sedikit pun rezekinya pada orang kafir ? Begitu pula dengan kehilangan jika Allah berkehendak kita akan kehilangan maka tidak akan ada orang atau apapun yang mempertahankannya.
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)
Rasulullah bersabda, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah sesuatu yang akan dikeluarkan Allah untuk kalian berupa keidahan dunia.” Para sahabat bertanya, “lantas apa yang dimaksud dengan perhiasan dunia ya Rasul?” Beliau menjawab, “yaitu keberkahan dan kemakmuran bumi.” Mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya kebaikan itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan dan kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan, kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Dan setiap apa yang tumbuh di musim hujan, kadang-kadang dapat membunuh atau menyakitkan. Kecuali bagi pemakan sayur-sayuran yang hanya memakan sampai kenyang, kemudian ia menghadap ke matahari lalu buang air besar atau kecil sesudah itu barulah ia makan kembali. Sesungguhnya harta benda dunia itu kelihatannya hijau dan manis. Barangsiapa yang memperoleh harta dengan jalan halal dan membelanjakannya pada jalan yang benar, itulah sebaik-baiknya pertolongan. Namun barangsiapa yang memperolehnya dengan jalan yang tidak halal, maka ia seperti halnya orang yang makan tapi tak pernah merasa kenyang.” (HR. Muslim, dalam Shahih Muslim no. 1743)
Pada akhirnya semuanya akan baik jika dilihat dengan kacamata iman, bukan begitu kawan ![]()
Sabar itu baik untuk kita dengan pahala yang tiada terputus dan syukur pun baik karena akan menambahkan nikmatNya berupa tambahan berkah dan kemakmuran.
kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. Hud: 11)
Rezeki itu semuanya sudah ditetapkan dan semuanya memiliki masa kedatangan atau kepergiannya masing-masing, yang perlu dijaga adalah keberkahan dalam menggapai dan mengikhlaskan rezeki itu. Tak akan berkurang sedikitpun karena Allah MahaPemberi jumlahnya, tetapi banyak atau sedikit berkahNya lah yang perlu dijaga dalam hadir dan perginya.
Pelajaran lainya adalah sepertinya sebelum pergi dari rumah memang harus berdoa seperti yang dianjurkan Rasulullah
Ummu Salamah meriwayatkan bahwa jika Rasulullah keluar dari rumah, beliau mengucapkan doa;
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Allahumma inni a’udzu bika an adhilla au udhalla au azilla au uzalla au azhlima au uzhlama au ajhala au yujhala alayya
Artinya
Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah. Ya Allah, aku mohon kepadaMu agar dilindungi dari kesesatan atau disesasatkan, tergelincir atau digelincirkan, menganiyaya atau dianiyaya bodoh atau dibodohi oleh orang lain. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Tirmidzi)