Ya Allah betapa indahnya kebersamaan denganMu baik dalam sedih dan suka Engkaulah yang selalu ada. Oleh karenanya selalu dekatkan kami kepadaMu. Ya Allah betapa beruntungnya hambaMu karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menerima apa pun kondisi hambaMu ketika ia berharap dekat padaMu. Ya Rabbi indah namaMu juga sifatMu selalu menaungi hamba-hambaMu. Syukurku untukMu ku panjatkan sebagai ungkapan terima kasihku dan rinduku padaMu. Sebesar, sebanyak, atau setinggi apapun doa hambaMu namun pemberianMu jauh lebih besar, lebih banyak, dan lebih tinggi. Izinkanlah kami kelak termasuk orang-orang yang beruntung dengan bisa berjumpa denganMu di surgaMu itu dan bukan termasuk ke dalam golongan yang Engkau tolak untuk berjumpa. Aamiin.
Tiba-tiba ingin menuliskan hikmah yang diperoleh dari beberapa kesempatan “chatting” dengan seseorang ibu yang juga seorang istri.
“Seandainya aja 11 tahun lalu, aku ikutin ajakan kabur dari dia mungkin jadinya ga begini. Sekarang setelah 11 tahun berlalu kenapa bisa mengulang kecamuk rasa di hati ini. Bagaimana enggak, tiba-tiba setelah 11 tahun ga pernah tau kabarnya dia. Eh sekarang tiba-tiba tau kondsi dia, boleh dibilang rasanya nyesel banget deh. Dia sekarang tambah cakep deh, lebih putih, dan kayanya hidupnya bahagia banget. Ga kaya aku. Dulu aku sama dia buat rencana ini dan itu. Ga pernah dia marah sama aku, klo pun marah ga bakal lama. Klo lagi jalan bareng, dia ga pernah ngeliat perempuan lain. Matanya itu ga pernah lepas ngeliatin aku. Malah pernah dia sengaja jalan mundur untuk bisa jalan sambil ngeliat aku. Tapi sekarang beda banget, rencana suamiku ya rencana dia doang, rumahnya suamiku ya rumahnya doang, ga pernah dia libatin aku untuk rencanain ini itunya, tau-tau langsung jadi aja begini begitunya. Udah gitu sering ribut mulu sama dia, dan klo ribut rasanya lama banget.” Panjang lebar ia menyesali semuanya.
“Mau kabur? kok bisa ?”
“Iya, dulu kan aku terpaksa nikah sama suamiku. Sebenernya dia waktu aku mau nikah, dia ngajak aku kabur. Kita janjian di tempat lain. Tapi sayangnya pas aku mau kabur, tiba-tiba ada ade yang bilang ‘awas lo, klo kabur! Bapak bisa mati di tempat.’ Yaudah akhirnya aku nikah ma dia”
“Ya ampun, kaya sinetron aja hehe…” berusaha menetralisir kondisi hatinya yang tengah gersang.
“Salah ga sih klo kaya gini, dosa ga sih sebenernya?”
“Emangnya knp bisa nikahnya sama yang sekarang bukan sama si dia?” Tidak ingin menghakiminya tetapi ingin mencoba memahami kondisinya terlebih dahulu karena yakin sebenarnya pun dia sendiri paham tentangnya.
“Soalnya dia ga lebih dulu dateng ngelamar aku dan suamiku ini dia lebih dulu dateng sama orang tuannya. Trs kata ayah, ‘ngapain lo nunggu dia. Udah pokoknya terima lamaran ini lagi juga udah kerja, PNS lagi daripada sama dia yang ga keliatan kejelasannya gitu udah pacaran 2 tahun tapi masih belom jelas gitu mau nikah apa ga.’ Padahal aku ga suka sama suamiku saat itu.”
“ehmm..Sebenernya apa pun semuanya itu Allah yang ngatur, contohnya ya waktu adenya dateng dan ngelarang untuk kabur sebenernya, Allah yang menjadikannya dia tau rencana itu dan menggagalkannya. Kan Allah ga harus ngedatengin kita untuk mengarahkan kemana takdirNya untuk kita semua. Termasuk kondisi yang udah terjadi saat ini. “
“Iya sih, aku juga pingin banget bisa tenang dan ga kaya gini. Tapi entah kenapa masih inget janjinya, katanya ‘klo aku ga bahagia dia bilang supaya telepon dia’. Aku tau banget dia ga pernah ingkar sama setiap janji yang dibuat aku.”
“Lagi juga sebelas tahun bukan waktu yang sebentar, untuk perubahan seseorang. Boleh jadi ada orang yang suka sama satu makanan tapi kan seiring berjalannya waktu dengan hadirnya makan lain boleh jadi pilihan kesukaannya berubah. Atau contohnya Jakarta 11 tahun kemaren sama Jakarta sekarang pastinya ga sama, ada bedanya dimana-mana. Apalagi manusia yang semakin hari ada tanggung jawabnya yang kian hari membesar. Mungkin memang dulu bahagia, tapi itu semua kondisi dimana menjalaninya tanpa tanggung jawab yang besar seperti sebelas tahun kemudian ini. Tanggung jawab akan kehadiran anak-anak, kebutuhan mereka, juga masalah sosial di keluarga besar, atau juga masalah sosial di lingkungan masyarakat.”
==================Chatting berikutnya===============
“Oia masih nih kemaren pas aku pergi sama suamiku, tiba-tiba dia bilang begini,’ Tenang aja, gua ga mau nyengsarain lo. Semua yang gua lakuin sebenernya supaya keluarga kita ga dihina-hina sama orang lain. Jadi lo percaya aja sama gua ya’. Kan kaget tiba-tiba aja dia ngomong kaya gitu. Trus aku jawab aja, ‘oia masa sih?”.
“^^ wah senengnya sepertinya dari ceritanya abis dibilangin seperti itu, ya kan? ya kan? hehe”
“haha”
“Iya gimana pun juga mana ada sih pada dasarnya suami yang mau istri yang disayanginya sengsara atau ga bahagia? Coba aja dia sampe bilang begitu. Apalagi waktu sakit kemaren bukannya dia rela-relanya bolak-balik beli obat, beli bubur, juga ngurus semuanya ?”
“iya sih, tapi gimana ya supaya bisa tenang dan ga kaya gitu lagi”
“Banyakin syukur aja, masa iya Allah kasih sedih, susah melulu? kan ga kaya itu. Cuma sekarang lagi dicoba aja, lagi pingin dilihat sejauh mana sabar yang ada. Mungkin klo sama-sama si dia dengan meninggalkan yang ada kini, kelak bisa bahagia di dunia, tapi nanti gimana klo kebahagiaan itu dikasih untuk balasan kebaikan kita di dunia supaya nanti di akhirat tinggal balasan dosa? ih.. Naudzubillah deh^^ Kadang kita digoda syetan untuk berandai-andai dengan segala khayalan ya tujuannya supaya kita ga bersyukur dengan nikmat yang ada. Jadinya yang terasa itu sedihnya aja, susahnya aja dan ga bisa lihat kebaikan dan kebahagiaan yang lainnya. Coba deh di luar sana bukannya masih ada yang belum seberuntung kita. Ada yang udah nikah tapi belum punya anak, ada yang belum juga menemukan siapa pasangannya, atau ada juga yang punya suami tapi ga setia, atau menikah tapi suaminya terbaring lunglai sakit di kasur, atau ada juga yang udah punya anak banyak tapi suaminya udah meninggal dunia.”
“ehmm… iya sepertinya harus banyak bersyukur kali yah.”
”ya iyalah, apalagi suaminya cinta mati gitu. hehe.. ^^”
“hahaa dasar”
“ya iyalah bener, klo ga cinta mati kenapa dia buru-buru ngejar sebelum di lamar ma si dia, hayo?” Berusaha menumbuhkan rasa spesial dirinya bagi suaminya itu.
Ada banyak hikmah di dalam ceritanya itu. Salah satu hikmahnya kita tidak akan pernah tahu apa saja gejolak hati yang berusaha di redam oleh seseorang yang terdekat sekalipun dengan beragam godaan yang menghampirinya. Oleh karenanya bahagiakanlah ia dan jangan berikan kesedihan untuknya, sebab boleh jadi apa yang ia korbankan dan tekan lebih besar dari apa saja yang kita ketahui. Hikmah yang lainnya silahkan mengambilnya sendiri ya ^^
Teringat ceritanya teringat pula sebuah artikel tentang Peta Kasih yang ditulis oleh Ust. Cahyadi, ini aku cuplikkan untuk menyempurnakan artikel kali ini ;
Peta kasih diperlukan dalam rangka semakin mengenali lebih dalam kondisi isteri, hingga detail perubahan dan perkembangannya. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara yang lebih praktis untuk mempercepat pengenalan ini ?
Memasuki “Dunia Perempuan”
Seorang suami bercerita kepada saya, bahwa dalam usia pernikahannya yang memasuki tahun ketiga, ia tak juga merasa semakin mengenal isterinya. Masih sekian banyak hal-hal asing dan –bahkan– aneh yang ia temukan pada diri seorang makhluk “halus” bernama isterinya itu. Siapakah dirimu, wahai isteriku ? Demikian ia sering bertanya dalam hati.
Banyak hal tidak bisa segera dipahami dari sang isteri. Seorang perempuan yang tiba-tiba menangis tanpa sebab-sebab yang bisa diterima akal laki-laki. Seorang perempuan yang tiba-tiba ngambek hanya karena urusan kecil menurut ukuran laki-laki. Sesekali sedemikian manja dan amat ceria, pada kesempatan lain tampak begitu keras. Sesekali tampak cerdas dan pintar dalam berargumentasi, sesekali lain tampak sedemikian emosional dan logikanya tidak jalan.
Seperti ia sedang dihadapkan pada sebuah laboratorium bernyawa, tengah ada banyak penelitian dan pelajaran yang bisa dieksplorasi. Ia menghadapi hari-hari yang berharga, pengenalan demi pengenalan, pengalaman demi pengalaman, dan berbagai pertanyaan yang belum semua terjawabkan. Apalagi dulu waktu masih lajang, ia termasuk pemuda yang tak banyak berinteraksi dengan perempuan. Ia seorang laki-laki yang clingus kata orang Jawa, pemalu berat. Tak pernah berdekat-dekatan dengan perempuan. Sejak menikah, tiba-tiba setiap hari ia berhadapan dengan perempuan.
Dunia laki-laki sering mengajarkan pola hidup rasional, argumentatif, cenderung mengeliminir unsur perasaan, dan dalam banyak hal : kaku. Ia lebih bisa memahami mengapa seseorang berkelahi, daripada mengapa ada orang menangis dalam menyelesaikan masalah. Ia lebih bisa menerima seseorang yang “to the point” dalam menyampaikan keinginan, daripada seseorang yang “terlalu panjang ceritanya” sekedar untuk mengekspresikan sebuah kehendak. Ia lebih mudah mengerti jawaban “iya” dan “tidak”, daripada bahasa perasaan yang mengalir tanpa kejelasan.
Cukup sulit baginya mengerti makna air mata. Ia belajar menterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa manusia biasa, bahwa isterinya sama sekali bukan dirinya. Bahwa parameter-parameter perasaan dan logika tak selalu sama antara dua makhluk yang oleh Tuhan telah diciptakan dalam format berpasangan. Dulu ia dilarang menangis oleh ayahnya ketika masih kecil, “Kamu laki-laki, jangan cengeng”. Lalu untuk apakah seseorang perlu menangis, padahal air mata tak akan bisa menyelesaikan permasalahan ?Demikian pikirnya.
Pernikahan memang telah mempertemukan bukan saja dua individu yang berbeda, laki-laki dan perempuan, tetapi juga dua kepribadian yang berbeda, dua selera yang berbeda, dua latar budaya yang berbeda, dua karakter yang berbeda, dua otak dan dua hati, bahkan dua ruh yang tak sama. Apabila seorang manusia kadang-kadang mengalami suasana hati yang tak bisa penuh dipahaminya, bagaimana ia akan bisa penuh-penuh memahami suasana hati orang lain ?
Memasuki dunia keluarga sesungguhnya sedang menelusuri lorong-lorong peradaban baru, sebuah pengalaman berkehidupan baru bagi sepasang laki-laki dan perempuan. Tak semuanya bisa dirasionalkan begitu saja, kadang memerlukan proses penelaahan dan kontemplasi yang rumit untuk memahami fenomena kehidupan baru. Memahami suasana jiwa, logika berpikir dan perubahan-perubahan alamiyah, psikologis maupun fisiologis, yang mengalir bersama hari-hari dalam kehidupan rumah tangga. Kadang terasa sedemikian cepat hari-hari bergulir, tanpa terasa, seorang laki-laki telah menjadi bapak bagi anak yang kemudian lahir. Seorang perempuan tiba-tiba telah menimang dan menyusui anak hasil pernikahan mereka.
Belum selesai proses pengenalan terhadap pasangan hidup, kini harus memahami dan mengenali seorang bayi mungil. Bayi yang bahasanya tiada lain kecuali menangis, yang telah merebut sebagian besar perhatian isteri, yang telah menyebabkan cinta mulai terbagi. Ada sesuatu yang bertambah, namun juga berkurang, dalam hidup. Ada makhluk mungil yang amat ajaib. Seorang suami merasa sedemikian bangga bisa memiliki keturunan, seorang isteri sedemikian gembira mampu menjadi pelahir generasi baru. Itulah hari-hari yang terus akan bergulir. Proses pembelajaran yang tak pernah usai.
Kita dibuat tidak secara pandai dan argumentatif memahami dunia pasangan kita, kecuali melalui pembelajaran dan saling membantu untuk terbuka kepada pasangannya tentang apa yang dirasakan : kepedihan, duka, kegembiraan, kecemburuan, kekecewaan, kebanggaan, ketertarikan, keinginan dan ribuan determinasi perasaan lainnya. Saling membantu mengajarkan tentang diri sendiri, bahwa “aku adalah makhluk hidup yang punya keinginan”, dan mestinya “engkau mengerti keinginanku”. Tetapi proses pembahasaan verbal tak senantiasa berhasil mengungkap hakikat perasaan, sebab diksi tak selalu mampu menuturkan kata hati secara jeli dan teliti.
Belajar Mencintai Isteri
Saling mencintai memerlukan proses belajar. Sejarah mencatat kehidupan seorang laki-laki yang setelah sepuluh tahun menikah baru bisa berbicara terus terang kepada isterinya, bahwa baru tumbuh rasa cinta pada saat itu. Artinya, selama sepuluh tahun pernikahan ia berada dalam kepura-puraan di hadapan sang isteri. Lalu, atas dasar apakah seorang isteri akan mempercayai cinta suami pada tahun kesebelas dan tahun-tahun berikutnya, jika bukan dari apa yang diungkapkan suami secara verbal?
Saya kira laki-laki tadi pun sesungguhnya tak perlu mengungkapkan kepada sang isteri bahwa sepuluh tahun ia mampu bermain sandiwara dengan baik. Sebab, justru akan membuka peluang prasangka berikutnya pada isteri : sandiwara apa lagi yang akan dimainkan suami pada waktu-waktu mendatang ? Sebatas apa garansi kepercayaan bisa diberikan secara timbal balik atas apa yang diucapkan dengan yang dirasakan ? Menyakitkan, dan amat menyakitkan pernyataan itu.
Cinta bisa saja menimbulkan prasangka, justru karena ingin mengekalkan kecintaan itu. Sebagaimana, saling percaya harus tumbuh di atas benih-benih kesuburan cinta dan kasih sayang suami isteri secara timbal balik. Tak pelak, keikhlasan harus memancar secara tulus dari kedua belah pihak untuk menerima apa adanya pasangan hidup masing-masing. Karena keputusan untuk menikah dengan calon suami atau isteri pada saat awal kehidupan rumah tangga dulu, adalah pilihan bebas dari laki-laki dan perempuan, tanpa ada satu pihakpun yang bisa memaksakan terjadinya pernikahan itu sendiri.
Menikah adalah pilihan sadar yang dilindungi agama dan negara, serta menjadi hak setiap laki-laki dan perempuan. Orang tua tak ada hak memaksa anak perempuan untuk menikah dengan seorang laki-laki, bahkan kepala negara sekalipun, tak diberi tongkat pemaksa itu. Seorang laki-laki berhak menentukan pilihan pasangan hidup, sebagaimana seorang perempuan berhak menentukan pilihan pasangan hidupnya. Jika kemudian sepasang laki-laki dan perempuan memutuskan saling menerima dan sepakat untuk melangsungkan pernikahan, maka atas alasan apakah satu pihak merasa terpaksa berada di samping pasangan hidupnya setelah resmi berumah tangga?
Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar untuk menentukan keputusan berkaitan dengan pilihan pasangan hidup. Tetapi, begitu akad nikah terjadi, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri, apabila satu pihak mencoba senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pihak lainnya; dengan merasa benar dan bersih sendiri. Pilihan menjadi lebih terbatas : menerima dan mencintai pasangan hidupnya itu. Apabila belum juga muncul rasa cinta setelah terlaksananya pernikahan, alternatif yang paling mungkin adalah : belajar mencintai. Teruslah menjadi orang yang belajar mencintai.
Untuk bisa mencintai dan merasakan dicintai, diperlukan pengenalan; sebagaimana kata orang bijak tak kenal maka tak sayang. Maka belajarlah mengenali pasangan hidup masing-masing. Apa yang menyenangkan dirinya, apa yang membuat sedih dan marah. Apa yang disukainya, dan apa yang membuatnya benci dan jijik. Apa tanda ia suka, apa tanda ia benci. Apa tanda ia gembira, apa tanda ia sedih. Apa indikasi ketenangannya, dan apa indikasi kegelisahannya. Kata-kata apa yang ingin didengar, dan kalimat apa yang tak ingin didengar.
Saling Membuka Diri
Tetapi bukankah yang mengetahui detail-detail diri kita adalah kita sendiri ? Dan bukankah kita tidak pernah menyempatkan waktu untuk menulis segala sesuatu tentang diri kita sendiri ? Lalu darimana isteri mengetahui tentang diri kita, yang tak pernah ada kepustakaan di muka bumi ini menulis tentang kepribadian kita ? Kemudian kita membiarkan isteri kita membaca dan menebak sendiri segala sesuatu, hingga ia akan paham dan mengerti dengan sendirinya tanpa harus diberitahu. Ah, proses pengenalan yang kelewat panjang dan menghabiskan energi.
Mengapa kita tidak belajar terbuka saja kepada isteri kita, mengatakan sesuatu secara terbuka, apa adanya, tentang buah-buahan kesukaan, tentang warna baju kesayangan, tentang lagu yang disukai. Mengapa kita tidak belajar jujur saja, dari hari ke hari, merenda kata-kata untuk mengutarakan segala daftar selera. Mengucapkan pilihan-pilihan bahasa perasaan, dan mempertemukan dengan daftar selera serta perasaan isteri kita.
Satu persatu, mengeja hari, mendata kosa kata, memperbincangkan diri sendiri di depan isteri. Dari apel, durian dan jeruk; sayur asem, cha kangkung, bayam rebus dan sambal terasi; lagu klasik, nasyid, atau campursari; baju lengan panjang, warna krem, daster lurik, dan piyama batik.
Dari shampo, sabun mandi cair, sikat dan pasta gigi. Make up, pembersih kulit, lulur dan alas bedak. Tentang hobi renang dan mendaki gunung. Tentang tokoh-tokoh kenegaraan, artis kesayangan, penulis-penulis besar dunia. Soal jumlah anak, nama-nama anak, dan jenis kelamin yang dikehendaki. Bahkan afiliasi organisasi dan partai politik. Atau apapun lah yang ingin diceritakan, saling berbagi rasa, berbagi cerita, mentertawakan kelucuan-kelucuan di masa lalu. Sekaligus meretas cita-cita masa depan.
Ya, kita bisa dengan cepat belajar paham dari adanya keterbukaan, untuk kemudian merasakan cinta dan kasih sayang yang mengalir dari pasangan hidup kita setiap harinya. Mencoba merasakan apa-apa yang dia berikan sebagai sesuatu ungkapan cinta dan kerinduan. Belajar memahami ungkapan kemesraan yang tak selalu sempurna terucap lewat kata-kata dan tingkah laku isteri kita. Menikmati keluguan demi keluguan orang yang tengah belajar mencinta dan dicinta.
Menerima apa adanya ucapan amat kaku ungkapan kasmaran, “Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku” yang diucapkan pun secara terbata-bata. Tidak mentertawakan proses pembelajaran yang tidak sempurna itu, bahkan merasakannya sebagai sebuah kesungguhan meraih kenikmatan hidup berumah tangga.
Adalah wajar orang yang tengah belajar mengalami kesulitan serta kegagapan. Menyetir mobil pertama kali penuh ketegangan, dan menegangkan orang lain. Belajar bahasa Inggris bermula dengan amat mengeja, sebagaimana belajar menulis huruf Arab yang tak ubahnya proses membatik kain. Demikian pun belajar bahasa cinta. Belajar bahasa romantisme. Belajar bahasa hidup berumah tangga. Belajar bahasa perasaan. Belajar bahasa perempuan. Belajar bahasa air mata. Sangat mungkin diawali oleh kesulitan dan kegagapan, mencoba-coba dan kadang merasa gagal untuk mencapai keindahan pengungkapan.
Proses pun berlalu, waktu demi waktu. Belajar rupanya tak pernah usai, dari satu bab selera, berpindah ke bab kosa kata. Dari bab perasaan ke bab logika. Dari bab belanja ke bab latar budaya. Sampai kita merasakan kedalaman pengenalan, agar bisa merasakan kedalaman kecintaan. Sampai kita menemukan dasar sumur hati dan perasaan pasangan kita, agar bisa mengukur kebutuhan tangga untuk mencapainya. Luar biasa indahnya makhluk ciptaan Tuhan bernama perempuan, isteri kita itu. Darinya kita belajar, dan tak pernah usai, berapapun jumlah hitungan usia kita.
Jangankan tiga tahun hidup berumah tangga, sampai wafat kita juga rasanya tak cukup proses pembelajaran itu. Oleh karenanya yang diperlukan adalah kesiapan belajar dan menerima hasil pembelajaran dalam hidup berumah tangga. Teruslah menjadi orang yang belajar mencinta dan dicinta. Jangan pernah berhenti.
Demikianlah tambahan keterangan terkait karakter suami ideal yang kelima tentang peta kasih yang lengkap. Suami dan isteri akan lebih mudah melengkapi peta kasih apabila mereka membiasakan keterbukaan, menyampaikan kondisi diri di hadapan pasangan. Setiap hari mengobrol tentang diri dan lingkungannya, tentang cita-cita, tentang berbagai hal yang diinginkan, tentang kekhawatiran dan tentang semua hal yang perlu diketahui pasangan. Dengan cara seperti itu, akan terajut pengenalan yang mendalam kepada isteri, sehingga detail perubahan dan perkembangannya selalu dikenali.
Indah bukan tulisan Ust Cahyadi Takriawan di atas, banyak jawaban dari chatting sebelumnya. Ingin sekali menutup artikel kali ini dengan sebuah doa. Semoga ini bisa mencegah hal yang tidak diinginkan.
Ya Allah setiap orang baik bisa disukai oleh banyak orang.
Sungguh aku pun tahu itu.
Tetapi di sisi lain ku sampaikan kekhawatiranku tentangnya yang Engkau takdirkan untukku.
Walau belum aku tahu ia siapa.
Aku takut ia tidak tegas.
Tak tegas memberikan batas antara kebaikan yang seolah memberikan harapan pada seseorang.
Ya Allah lindungilah ia dari kedzoliman.
Kedzoliman yang ia sendiri tak menyadarinya, atau pun dari yang ia ketahui tentangnya.
Tunjukilah ia dengan kelembutan AsmaMu dan sadarkanlah atas setiap khilafnya di dunia agar ia tak membawa dosa yang membuatMu murka atau dosa yang harus ia qishash di akhiratMu dari gugatan orang-orang yang didzoliminya.
Aamiin Allahumma Aamiin.