Sore kemarin sewaktu menunggu redanya hujan di lobi sebuah Rumah Sakit sembari melihat tayangan televisi yang berada tepat di depanku, ada seorang anak kecil yang berlari dengan teriak tangisnya memanggil, “mama… mama…” Lalu ada ibu lain yang berkata kepada satpam yang sedang menanyakan kepada anak itu, “Tadi dia keluar sendiri dari Lift tuh pak!” Beberapa detik kemudian ada seorang ibu yang juga dengan paniknya keluar dari lift dan menghampiri anaknya itu dengan memeluk dan menghapus air mata anak tersebut lalu mengendongnya. Alhamdulillah, ternyata segera ditemukan dan menemukannya ^^
Aku paham apa yang dirasakan sang anak itu, ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, dan ketidaktahuan semuanya berkecamuk menjadi satu hingga yang ada hanya tangisan yang ia keluarkan. Mungkin di awali dengan keingintahuannya untuk bermain dengan lift tetapi akhirnya malah membuatnya berada di dalam kondisi yang tidak ia inginkan. Merasa sendiri tanpa ada seorang yang ia kenal mendampinginya, jadi wajarlah ia menjadi histeris seperti itu.
Ternyata fenomena kehilangan anak bukan saja terjadi di sana. Ada yang kehilangan di mall sewaktu sang anak ikut berbelanja dengan sang orang tua, ada yang kehilangan sewaktu mengikuti acara di mesjid, ada yang keilangan di tempat rekreasi, ada yang kehilangan di terminal, bahkan ada juga yang kehilangan anaknya di rumahnya sendiri. Tidak salah memang mengajak mereka ke berbagai tempat karena mereka pun membutuhkan itu semua. Akan tetapi ternyata ada hal yang perlu diperhatikan oleh orang dewasa ketika ingin mengajak mereka ke tempat ramai yang sangat memungkinkan hal itu terjadi. Anak-anak bukan seperti orang dewasa yang sudah mengerti apa yang ia lakukan, terkadang ada banyak fenomena yang menurut orang dewasa biasa tetapi bagi mereka bukanlah hal yang biasa. Oleh karenanya memperhatikan hal itu menjadi daya gugah bagi mereka. Jadi bisa saja orang tua fokus melihat apa yang menurut mereka sendiri menarik tetapi di lain pihak bagi sang anak itu kurang menarik hingga sang anak pergi atau tidak sadar ditinggal oleh orang tuanya.
Beberapa bulan kemarin contohnya, ketika ingin pulang dari Mesjid At-Tin ternyata ada banyak pengumuman kehilangan anak. Bahkan tidak hanya satu anak tetapi beberapa anak yang diinfokan oleh orang tuanya atau oleh penemu anak yang sedang mencari orang tua sang anak. Tetapi di sisi lain sembari berjalan keluar mesjid ada anak-anak yang dengan riangnya berlarian tanpa pengawasan orang tua, jangan-jangan itu mereka ^^ ?
Ada hal unik lainnya ketika melihat anak kecil yang berlarian ternyata di tubuhnya ada sebuah “name tag” yang sengaja dikalungkan dengan berisi biodata nama anak, nama orang tua, no Hp, dan alamat rumah sang anak. Wah… bisa menjadi alteratif memang bagi orang tua untuk melakukan sebagai bentuk penjagaan terhadap mereka. Tetapi di luar itu, ternyata pengetahuan tentang alamat rumah, no telepon, dan nama orang tua sepertinya merupakan hal penting yang harus ia ketahui, karena bagaimana jika name tag itu terjatuh dan ia sama sekali tidak mengerti ? Maka sekali-kali mengajarkannya untuk memahami lingkungan rumahnya dengan jalan-jalannya juga menjadi sebuah pembelajaran penting baginya.
Teringat sebuah nasehat seorang ulama, “jika rumahmu berada di tepian sungai maka jangan larang anakmu bermain di tepiannya tetapi ajarilah ia berenang”. Singkat memang nasehatnya tetapi di dalamnya ada pembelajaran, bahwa perintah jangan itu menjadi alternatif terakhir setelah kita melakukan pencegahan utama akan bahaya yang kita khawatirkan tentangnya. Anak-anak lebih sukar mendengar perintah jangan dibandingkan dengan ia menerima pembelajaran yang menarik hatinya. Boleh jadi ia tidak bermain ketika ia melihat ada orang tuanya tetapi bagaimana jika tidak ada orang tuanya di sana?
Oia sebenarnya kejadian hilangnya anak bukan hanya baru terjadi di masa sekarang, bahkan pada zaman nabi pun ia pernah hampir kehilangan salah seorang cucu yang sangat disayanginya. Ini ceritanya;
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Salman ra;
Kami sedang bersama nabi saw ketika Ummu Aiman ra datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, al-Hasan dan al-Husain ra hilang!” waktu itu tengah hari.
Nabi saw bersabda, “Mari sama-sama mencari kedua anakku.” Orang-orang berpencar. Sementara aku sendiri mengikuti nabi saw. Beliau terus mencari sampai di lereng bukit. Di sana ternyata al- Hasan dan al-Husain ra saling berpelukan, karena ada seekor ular yang berdiri siap mematuk. Dari mulutnya terjulur lidah bercabang laksana api.
Rasulullah saw segera mengusirnya. Ular itu melihat ke arah Rasulullah saw kemudian pergi menyusup di balik bebatuan. Beliau mendatangi dan melepaskan pelukan mereka berdua . Beliau mengusap wajah mereka berdua dan berkata,” aduhai, betapa mulianya kalian di sisi Allah.”
Kemudian beliau menggendong mereka berdua, satu di pundak kanan dan lainnya dipundak kiri. Aku katakan, “Kalian beruntung. Sebaik-baik tunggangan adalah tunggangan kalian berdua.”
Rasulullah saw bersabda, “sebaik-baiknya penunggang adalah mereka berdua. Bapak mereka lebih baik dari mereka berdua.”
Indah ya ^^ contoh yang Rasulullah berikan
Betapa adilnya beliau dengan kedua si kembar itu, kedua pundaknya ia berikan kepada mereka untuk memberikan kenyamanan dan keamanan setelah perasaan ketakutan dengan si ular. Rasulullah mengajarkan bagaimana menyingkirkan ketakutan dengan mengusap wajah mereka, mendoakan mereka, memuliakan mereka dengan mengendong mereka dengan disertai pujian terhadap mereka. Jadi ternyata kelembutan dan kasih sayang itu bukan hanya milik para ibu karena Rasulullah pun telah mencontohkannya sendiri tetang bagaimana kelembutan dan kasih sayang kepada anak-anak.

