Alhamdulillah akhirnya satu lagi list buku “Dream Books” sudah tercapai. Entah sejak kapan mulai membuat list buku-buku impian yang ingin dibaca dan dimiliki. Mungkin di awali dengan penugasan membaca buku-buku sewaktu dulu. Walau pada awalnya kesulitan dalam mencari buku-buku tersebut terlebih kesulitan mencerna bahasa-bahasanya. Lama kelamaan, keterpaksaan itu berubah menjadi kenyamanan. Bahkan adakalanya mengulang buku yang telah selesai dibaca setelah beberapa waktu lamanya hanya sekedar ingin kembali memperoleh nasehat isi buku tersebut.
Lagi-lagi Allah memberikan nikmatNya dan bukti kasih sayangNya, sebab betapa sebenarnya buku menjadi sebuah harta yang sangat bernilai dari kendaraan termahal saat ini sekalipun. Pernah bukan diceritakan pada artikel sebelumnya kisah Barseso, bahwa syetan lebih mudah mengecoh ahli ibadah yang tak berilmu sehingga menjerumuskannya kepada jurang kebinasaan yang teramat dalam. Ternyata menurut salah seorang ustadzah bukan sembarang buku yang perlu kita baca dan endapkan menjadi langkah kita menjalani hidup ini, sebab sekalipun buku itu berjudul kisah 25 nabi ternyata ada buku-buku yang menyisipkan kontain Israiliyat dan liberalisme di dalamnya. Contoh kisah yang terbalut Israiliyat yaitu kisah tentang Nabi Adam dan Siti Hawa, versi Al-qur’an menyatakan bahwa mereka berdua bersamaan memetik buah khuldi tetapi jika versi Israiliyat ada terbujuk oleh Hawa yang lebih dahulu memetiknya.
Pertanyaannya lalu bagaimana kita mengerti di dalam buku yang kita baca dan yakini murni tidak disisipi nilai-nilai yang ingin menggiring kita kepada keburukan yang tidak kita sadari terlebih saat ini sudah banyak sekali penerbit dan penulis ? Itulah yang sebenarnya masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab, semoga Allah memelihara langkah kaki kita dengan ilmu yang benar-benar bermanfaat.
Pernah ada seorang ustadz berkata dalam sebuah forum besar dan menanyakan kepada hadirin semua, “Siapa nabi kita ?” kontan semua menjawab, “Nabi Muhammad” kemudian ketika beliau menanyakan, “Sekarang siapa yang di rumahnya ada buku tentang hadist, minimal Riyadush Shalihin?” Ternyata hanya beberapa saja yang mengangkat tangannya dari sekian banyak peserta baik bapak-bapak ataupun ibu-ibu di sana. Seketika Ustadz itu menjelaskan ternyata kita memang mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi kita, tetapi mengapa kata-kata beliau yang terangkum di dalam buku hadist belum kita baca dan ketahui, memiliki bukunya saja kita enggan atau tidak masuk ke dalam budget kita. Bahkan kemudahan kita untuk memilikinya terkadang masih jauh kita raih dibandingkan dengan masa para sahabat mengumpulkan satu buah hadist yang harus melakukan perjalanan panjang dengan biaya pengeluaran yang dahsyat tetapi mereka bersemangat menjalaninya.
Diriwayatkan Abdullah bin Umar oleh Al‑Hakim bahwa generasi umat dibagi jadi dua: (1)‑ umat yang diberi keimanan terlebih dahulu, kemudian baru diberi Al Qur’an (2)‑ umat yang mengambil pelajaran Al‑Qur’an lebih dahulu sebelum didapatkan keimanan. Kemudian Atsar itu menyebutkan perilaku dari kedua kelompok generasi itu, dimana kelompok yang pertama terdiri dari para Salafushshaleh dan pembesar‑pembesar sahabat yang mengetahui yang diwajibkan dari yang dilarang dan alasannya; sementara kelompok yang kedua cuma pandai membaca Al‑Qur’an dengan lancar dan mengkhatamkannya dengan cepat tanpa tahu mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang serta batasan‑batasannya. Pada akhirnya kedua kelompok ini melahirkan manhaj yang berbeda, dan dari kelompok yang kedualah munculnya Al‑Firaq Al‑Bathilah (aliran‑aliran yang sesat), di antaranya Al‑Khawarij (Dakwatuna.com).
Itulah fenomena yang menjerumuskan umat Islam yang terdahulu dan sangat mungkin terjadi pada saat ini, ketika kita sendiri pun tidak mengetahui yang diwajibkan dan apa yang dilarang serta buram akan batasannya. Astagfirullah, sangat mengerikan sebenarnya. Bukankah Allah melihat kita dari siapa yang terbaik amal ibadahnya bukan banyaknya ? lalu bagaimana kita mengerti bawa kita menuju kepada kebaikan ketika parameternya saja kita enggan untuk mengetahuinya, terlebih ada banyak kemudahan memperoleh nasehat dari jejaring sosial atau website, tetapi apakah nasehat itu benar kebenarannya sesuai syariahNya. Oleh karenanya membaca lewat buku langsung yang terpercaya penulisnya menjadi lebih utama dari membaca lewat web yang belum kita ketahui siapa orangnya dan tidak pula kita ketahui darimana asal tulisannya itu.
Ayo kawan, tidak ada kata terlambat untuk membaca selama hayat masih dikandung badan. Semangat membaca, semoga berkah usianya dan baik pula nilai ibadah-ibadahmu di sisiNya. Jangan biarkan hatimu berfatwa karena nafsumu tapi dengan ilmumu.
Bahkan Nabi Musa mncontohkan praktek langsungnya untuk menimba ilmu dengan perjalanan ratusan tahun untuk menemui seorang yang tidak terkenal dan pembelajaran yang diterimanya begitu sangat misteriusnya pada 3 kejadian yang tidak masuk di akal tersebut. melubangi kapal, membunuh anak muda, dan membangun tembok yang runtuh dari anak yatim.
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita bukan tergolong dari golongan pemuda yang karena kebodohannya maka Al-qur’an hanya merdu di lafazkan tetapi jauh dari pemahamannya, bahkan yang parahnya mereka berpegang teguh kepada paham golongannya dan mudah sekali mengafirkan muslim lainnya hingga keIslaman mereka tidak diakui oleh Allah.
Ya Allah berikan kami sebaik-baik petunjuk yang dengannya dapat mendekatkan kami kepadaMu. Ya Allah berikan kami sebaik-baiknya semangat yang dengannya kami dapat melangkah menuju sisiMu. Ya Allah anugerahkan kepada kami rasa takut yang dengannya kami takut bermaksiat kepadaMu. Aamiin Allahumma Aamiin.
”Karena amal kebaikan kita merupakan buah dari ilmu dan ilmu bermula dari hikmah yang diperoleh dari membaca buku.” (Fiqih Sunnah)
Ustadz Satria Hadi Lubis mengatakan, “Seorang muslim harus mempunyai guru agama (yang benar). Kalau tidak, ia akan mudah tersesat. Pesan Rasulullah Saw kepada Ibnu Umar Ra, “wahai Umar, agamamu! Agamamu! Ia adalah DARAH DAN DAGINGMU. Maka perhatikanlah dari SIAPA kamu MENGAMBILNYA. Ambillah dari orang-orang yang istiqomah (terhadap sunnah) dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng (dari Sunnah).”
