Alhamdulillah, bisa kembali menulis senangnya ^^
Selamat Tahun Baru 1433 H, kawan…
Kilas balik hari dari hati hingga syukur terpaut tinggi padaMu yang Maha Merajai,
Alhamdulillah Ya Rabbi ^^
Satu tahun telah berlalu, cepat sekali ya ? Ada banyak cerita yang sudah terjadi di dalam hidup kita semua. Ada yang terasa manis atau pun pahit, tapi percayalah di balik itu semua ada banyak kasih sayangNya. Oleh karenanya mengakhirinya dengan kalimat tahmid, supaya bisa bertambah nikmatNya di tahun yang baru juga sebagai bentuk penghindaran diri dari kufur atas nikmatNya selama ini.
Mengingat akhir tahun dan hisab diri, jadi teringat ada beberapa hal yang menjadi target di tahun kemarin yang telah tercapai namun ada pula yang belum di peroleh kini. Salah satu contohnya, tentang target untuk mengolah sampah organik di rumah. Jika ingat itu, banyak pelajaran yang bisa di ambil dari kegagalannya. Ups.. tergantung juga memang dipandang dari sudut mana untuk bisa dikatakan berhasil atau tidaknya.
Berawal dari sebuah kepanitiaan untuk memberdayakan potensi para ibu rumah tangga sekitar setahun lebih kemarin, salah satu acaranya adalah pengelolaan sampah organik atau pun sampah non organik. Aku suka bersama mereka alias para ibu, banyak hal yang belum ku ketahui dapat ku ketahui dari pengalaman mereka, termasuk salah satunya tentang pengelolaan limbah rumah tangga agar menjadikannya sebagai pupuk yang bermanfaat atau bahkan bungkus mie yang bisa bermanfaat menggantikan busa atau kapas untuk bantal atau boneka.
Membuat rencana itu menyenangkan karena seolah merangkai segala kerangka kebaikan meskipun belum nampak hasilnya secara nyata namun ketika mengingat kepada tujuannya maka itu bisa membahagiakan. Aku suka dengan kalimat suami dari ibu Asma Nadia yang disampaikan oleh dirinya;
“Bunda mimpi itu tidak perlu bayar, jadi jangan takut untuk bermimpi besar”
So sweet ^^kalimat itu begitu diingat oleh ibu Asma, karena kata-kata itu menjadi motivasi dirinya manakala ia berniat untuk membangun 1000 rumah baca di seluruh Indonesia.
Back to pengolahan sampah…
“Cara yang baik harus di awali dengan yang baik”
Mungkin itulah hikmah besarnya
Seingat aku di dalam tong sampah itu sudah aku kumpulkan setiap kulit mangga, ampas teh, sayur mayur, nasi yang basi, kulit pisang, akhirnya ada satu hal yang ternyata penting dan terlupa adalah awalannya atau bahasa lainnya adalah “starter”. Kompos yang sudah jadi seharusnya tidak boleh tertinggal untuk di jadikan awalan fermentasi sampah organik tersebut. Alhasil, tanpa kompos adalah memang tetap terjadi proses fermentasi atau pembusukan tetapi karena pada awalnya tidak diberikan kompos maka pembusukannya mungkin bukan terjadi oleh bakteri penghasil kompos tetapi oleh bakteri lain. Perbedaan pengurai atau dalam hal ini bakterinya maka hasilnya pun berbeda. Bukan kompos yang dihasilkan tetapi sampah yang berbau tidak mengenakkan. Bau itulah yang mengundang lalat berdatangan, menggoda mereka untuk bertelur di medium tersebut. Hasilnya adalah ada larva lalat Hermetia atau Black soldier hingga lalat lokal.
Larva itu lah yang orang awam sebut dengan belatung… akhirnya di buanglah semua itu oleh orang tua ^^
gagalkah ? itu tergantung cara memandangnya. Semakin sempit pandangan maka semakin kurang bersyukur begitu juga sebaliknya.
Sebenarnya larva tersebut Hermetia, memiliki nilai jual tinggi jika diolah menjadi pakan ternak. Entah itu untuk ikan hias atau burung. Bahkan kebutuhan untuk pakan ternak dengan kadar protein tinggi yang bisa di dapat dari larva itu pun setiap tahun semakin meningkat di negara Amerika. Dari “kegagalan” pengolahan itu ada pelajaran ternyata dari sampah biasa pun larva itu bisa tumbuh sehat dan besar hehe ^^
Semoga kelak ada semakin banyak hikmah dan pelajaran tentang hidup ini yang bisa tertuliskan kembali di tahun yang baru. Writing is sharing !
Terkadang kita tidak mendapatkan sesuatu pada saat kita tengah menginginkannya, tapi sangat mungkin mendapatkannya pada saat kita sudah tidak menginginkannya. Kita juga bisa kehilangan sesuatu pada saat menginginkan dan memilikinya, sama mungkinnya dengan kita tetap memilikinya sekalipun tidak kita inginkan. Apa pun Itu semua karena kebijaksanaanNya dan cintaNya dalam ukiran setiap takdir kita. TakdirNya bukan kesengajaan juga bukan permainan tapi itu adalah pertimbanganNya.
Jadi bersyukurlah insyaAllah semua akan indah di sisiNya
Tahun yang baru ini semoga kita menjadi golongan hamba-hambaNya yang beruntung karena menjadi lebih baik di sisiNya dari tahun-tahun kemarin. Semoga semakin mudah berbuat kebaikan. Aamiin Allahumma Aamiin
^_^b
Ada sebuah artikel dari sebuah buku yang bagiku menginspirasi dan memotivasi bahwa berbuat kebaikan itu mudah, silahkan di baca ;
Pada suatu siang yang terik, seorang supir angkutan bercerita pada salah seorang penumpang. Sang supir itu berbadan tegap dan berambut cepak. Sebelah kanan pergelangan tangannya memakai manset-yang biasa dipakai akhwat- untuk menutupi kulitnya yang dipenuhi tato yang telah dicoba dihapusnya.
Kepada penumpang itu, ia pun menuturkan kisah hidupnya. Konon, ia adalah mantan penguasa sebuah terminal. Entah berapa ratus botol minuman keras yang telah ditenggaknya, entah berapa musuh yang ia layangkan nyawanya, entah berapa banyak harta yang berhasil dirampasnya dan dihabiskan di meja judi, dan entah berapa perawan dan istri orang yang ia nodai, begitu pengakuannya.
Ketika operasi “petrus” (penembakan misterius) dilancarkan pemerintah, ia pun merasa jiwanya terancam. Ia takut dibayangi kematian, sementara ia sadar betul dirinya begitu berlumuran dosa. Ia pun melarikan diri untuk menghilangkan jejak. Ia menjadi seorang kelana, yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain di nusantara.
Selama masa pengembaraannya, ia tak pernah menemukan tempat yang begitu menentramkan hatinya kecuali mesjid. Kemanapun ia melangkah, ia merasa jiwanya terancam, namun ketika di mesjid ia merasakan kedamaian luar biasa.
Ia pun mulai berinteraksi dengan komunitas masjid. Ia selalu melihat bahwa orang yang memasuki masjid selalu diliputi ketenangan. Tak pernah ia temukan orang yang masuk mesjid merasa ketakutan, harus tengok kiri kanan.
Hal ini sangat berbeda dengan saat ia melakukan kejahatan. Hatinya selalu diliputi ketakutan. Jantungnya selalu berdegup kencang. Ia pun kerap tak bisa tidur. Tak ada kejahatan yang bisa dilakukan dengan mudah. Ketika mencuri, meski hanya seekor ayam, ia akan merasa ketakutan, mendengar suara daun bergesek pun, katanya, seolah mendengar suara orang-orang yang mengejar.
Ia pun sampai pada simpul pemikiran bahwa betapa mudahnya kebaikan dan betapa sulitnya berbuat kejahatan. Tak pernah kita temukan orang jatuh miskin karena beramal, atau orang menjadi stres karena berbuat kebaikan. Kejahatan menimbulkan risiko besar bagi keselamatan jiwa, sedang kebaikan menjamin keselamatan dunia bahkan akhirat.
Sekembalinya dari pengembaraan ia pun menjadi manusia lain. Ia datang ke tempat tinggalnya semula dengan logika sederhana yaitu, “mudahnya kebaikan dan melakukan kejahatan adalah sulit” ia tebarkan logika tersebut pada sekelilingnya. Tak mudah memang. Komunitas lamanya terlalu gersang. Namun ia tak putus asa, ada juga satu dua yang mengikuti jejaknya.
Pengalaman di dunia gelapnya membuatnya begitu yakin bahwa persepsi orang tentang berbuat kejahatan itu mudah, adalah salah. Setelah dijalani berbuat baiklah yang justru mudah dilakukan. Orang selalu mengatakan bahwa untuk berbuat kebaikan butuh perjuangan. Padahal berbuat jahat justru perjuangannya lebih berat. Ia tak saja melawan hukum dan masyarakat, namun juga nuraninya sendiri.
*salah satu cerita dari buku Smart Choice, oleh Ida S. Widayanti.