12395853198kcIGNV

Betapa Cahaya Ilmu Sangat Penting

Agama Islam adalah ilmu yang mengutamakan ilmu. Al-qur’an di mulai dengan kata “iqra”, sebagai pilihan kata dari sekian banyak kata. Seolah Allah mengatakan apabila engkau ingin menjadi muslim yang baik maka berilmulah, atau memperdalam pada urusan agama ketika hendak melakukan amal dengan pengetahuan karena ilmu itu harus mendahului amal.

HR. At-Tirmidzi “Ketahuilah dunia ini semua terlaknat di hadapan Allah kecuali ada 4 hal yaitu, dizikir kepada Allah, hal apapun yang menolong untuk berdzikir kepada Allah, orang yang Alim (orang yang berilmu) dan orang yang senantiasa mengkaji ilmu.

Sebagai satu bukti kebaikan keislaman seseorang maka terlihat dari kualitas keilmuannya.

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah adalah ulama”

Umar bin Khattab diriwayatkan Bukhari, ia berkata ia punya tetangga bernama  Uthban bin Malik. Mereka bedua datang bergantian ke majelis Rasulullah. Ketika Umar yang hadir maka Uthban mengerjakan urusan rumahnya, mencari nafkah, dan mengerjakan pekerjaan Umar.  Pada hari berikutnya ketika Uthban yang hadir maka Umarlah yang menggantikan tugas-tugas uthban sehingga keduanya tidak terlewat satu hari pun terlewat kajian Rasulullah dengan kehadiran langsung atau dengan saling menyampaikannya satu sama lain.

Abdullah bin Abbas, apabila ia mendengar ada sahabat yang pernah secara yang langsung mendengar hadist dari Rasulullah maka ia datang pada waktu qoilula dengan menunggu di depan pintu rumah tersebut dengan duduk sampai bajunya lusuh berdebu hanya menunggu satu hingga dua jam, menjelang sholat dzuhur agar seseorang yang ia tuju keluar dari rumahnya untuk berangkat ke mesjid maka ia menanyakan kepadanya.

Jabir bin Abdullah yang tinggal di Madinah, ia mengujungungi Abdullah bin Unaisy di Syam untuk bertanya langsung hanya untuk satu hadist.

Abu Ayyub Al-Anshori mendengar ada seorang yang mendengar langsung dari Rasulullah maka karena ia tidak ingin mendengarnya dari orang lain maka ia sengaja berangkat dari Madina ke Mesir untuk bertemu Uqbah bin Amir, tentunya bukan dengan pesawat terbang tetapi dengan unta selama satu bulan hingga dua bulan berjalan melewati teriknya gurun hanya untuk memastikan langsung nukilan hadist yang pendek “barang siapa yang menutupi aib muslim lainnya maka kelak di hari akhirat Allah akan menutupi aibnya”

Salah satu faktor sahabat menjadi generasi terbaik adalah karena mereka memperhatikan keilmuan agama dan berjuang gigih untuk memperolehnya.

Ya Allah Rahmati mereka para sabahat dengan balasan yang jauh lebih baik dari apa saja yang telah mereka lakukan dahulu, hingga ilmu itu tetap lestari hingga kini. Bantu kami mencontoh kebaikan-kebaikan mereka agar kami menjadi golongan manusia yang berilmu dan mengetahui apa saja yang dapat mengantarkan kami pada jalanMu yang lurus serta menjadi pelita bagi mereka yang belum mengetahui. Dengan RahmatMu itu selamatkanlah kami dari penjerumusan tipu daya syetan yang Engkau laknat ya Rabb.
Aamiin Allahumma aamiin

Pantas saja ketika dahulu Rasulullah berkata ;

Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Karena memang begitu besarnya perjuangan mereka, hingga rela berbulan-bulan jauh dari rumah. Bertransportasi seadanya untuk menunju daerah tujuan. Menunggu lama. Bergantian mengerjakan tugas-tugas orang lain, agar dapat menunaikan kesemuanya dengan baik. Rasanya memang benar Allah saat ini tidak memberikan beban yang berat kepada kita seperti beban yang Allah bebankan kepada mereka semua di masanya. MasyaAllah, La quwwata ila billah.

Kawan sudah munculkah rasa takut dan khawatir. Jangan-jangan begitu sedikit ilmu yang kita miliki dalam agama ini di tengah segala kemudahan fasilitas yang ada. Kita memang belum pernah bertatap muka dengan Rasulullah langsung. Kita memang tidak pernah berjumpa dengan para sahabat yang mencintainya dan meniru setiap detail hidupnya. Kita pun memang tidak pernah berjumpa dengan para ulama besar setelah wafatnya para sahabat itu. Namun bukankah pada saat ini sudah banyak terkumpul rangkaian hadist dalam bentuk bahasa kita bukan bahasa arab yang tak kita pahami artinya ? Bukankah sudah banyak nasehat dan ilmu para ulama yang tercetak pada buku-buku yang bisa kita peroleh kini ? Bukankah pada saat ini ada MP3, video, blog, yang telah mengabadikan itu semua untuk kita gunakan. Bahkan sudah ada Twitter dan Facebook agar yang memudahkan kita memperoleh nasehat dan bertanya kepada mereka para Alim ulama ?

Astaghfirullah… Padahal Rasulullah pernah berwasiat;

“Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui).”

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa syetan berkata kepada Iblis, “Wahai pemimpin kami , sesungguhnya kami bergembira atas kematian satu orang alim dan tidak bergembira atas kematian seorang ahli ibadah.”

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Satu orang alim ulama lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ada sebuah kisah yang bagus untuk menjelaskan mengapa ahli ibadah sejumlah seribu orang tidak mampu menyamai satu orang yang sholih dengan ilmunya meskipun ibadahnya jauh lebih sedikit dari mereka para ahli ibadah. Kisah ini ku ambil dari web ini (Klik disini)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ada seorang ahli zuhud bernama Barseso. Dia beribadah dalam kuil selama tujuh puluh tahun yang tidak pernah bermaksiat sedikitpun. Lalu iblis ingin menggoda dengan ilmu hilah (rekayasa), maka pada suatu saat dia mengumpulkan para pembesar setan dan berkata, “Adakah di antara kalian yang mampu merusak Barseso?” Setan putih berkata kepada Iblis, “Saya sanggup merusaknya.” Lalu ia berangkat ke tempat Barseso dengan mengenakan pakaian ulama dan mengenakan sesuatu di atas kepalanya, lalu datang ke kuil Barseso dan memanggilnya. Tetapi dia tidak menjawabnya.

Barseso tidak berhenti dari beribadah kecuali setiap sepuluh hari sekali. Tatkala setan putih tak mampu mengambil perhatian Barseso, maka dia berpura-pura shalat dan beribadah di dalam kuil itu. Maka setelah Barseso selesai dari shalat dan ibadahnya, dan ingin beranjak keluar, dia melihat setan putih itu tampil seperti ulama yang sedang shalat dan beribadah dengan bentuk yang sangat bagus. Lalu Berseso bertanya kepadanya, “Kamu tadi memanggilku sementara aku sedang sibuk shalat, apa yang kamu perlukan?”

Dia menjawab, saya ingin bersamamu untuk belajar ilmu dan menirukan amalmu serta kita bersama beribadah sehingga aku bisa mendoakanmu dan kamu juga mendoakanku.”

Barseso berkata, “Saya tidak bisa bersamamu, jika kamu seorang mukmin, maka kamu mendapatkan bagian dari doaku yang kutujukan bagi semua orang mukmin.” Kemudian dia beranjak shalat dan meninggalkan setan itu. Maka setan itu pun beranjak shalat dan setelah itu Barseso tidak menoleh kepadanya selama empat puluh hari.

Setelah Barseso selesai shalat, dia melihat setan sedang berdiri shalat. Tatkala dia melihat kesungguhannya, maka dia berkata kepadanya, “Apa yang kamu butuhkan?” Setan menjawab, “Saya ingin kamu memberi izin kepadaku untuk naik ke kuil bersamamu.” Lalu dia memberi izin naik di kuil dan beribadah bersama Barseso beberapa waktu, tidak berbuka dan tidak berhenti dari ibadah kecuali setelah empat puluh hari bahkan terkadang sampai delapan puluh hari. Maka tatkala melihat kesungguhan dia dalam beribadah, Barseso merasa rendah hati berada di hadapannya dan kagum terhadap kehebatan ibadah setan putih itu. Dan setelah lama beribadah bersama Barseso, setan berkata kepadanya, “Saya ingin pergi karena saya memiliki teman selain kamu. Saya mendapat berita kamu lebih baik daripadanya, ternyata saya mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkiraan saya sebelumnya.”

Kemudian Barseso merasakan sesuatu yang besar dalam batinnya sehingga tidak mau berpisah dengannya karena dianggap lebih baik ibadahnya daripada dirinya.

Ringkas cerita, pada saat berpisah, setan mengajari Barseso doa-doa untuk menyembuhkan orang sakit dan gila. Kemudian setan putih itu menggangu seorang gadis Bani Israil yang memiliki tiga saudara laki-laki. Dahulu bapak mereka adalah raja, setelah bapaknya meninggal, ia digantikan saudara laki-lakinya, yaitu paman gadis itu. Setan menyiksa dan mencekik gadis tersebut. Lalu setan datang kepada keluarga tersebut dan mengabarkan tentang Barseso yang mampu mengobatinya. Setan menyaratkan agar gadis itu ditinggal bersama Barseso dan mempercayakan kepadanya karena dia seorang ahli ibadah.

Pada awalnya Barseso menolak gadis itu untuk dititipkan padanya. Namun akhirnya, saudara-saudaranya membuatkan kuil dekat kuil Barseso dan meninggalkan saudara gadisnya di sana.

Setelah selesai shalat, Barseso melihat ada gadis cantik berada di dekatnya. Maka dia mulai jatuh hati dan tergoda. Lalu setan mengganggu gadis itu, lalu Barseso berdoa dengan doa yang diajarkan setan dahulu. Setan itupun keluar dan pergi dari gadis itu. Kemudian dia mulai shalat lagi, setan itu datang kembali dan menganggagu sang gadis. Maka tanpa sengaja tubuh gadis itu terbuka dan setan membisikkan Barseso, “Gaulilah gadis itu dan setelah itu kamu bisa bertaubat.” Dan setan pun berhasil, Barseso menggauli gadis tersebut sehingga gadis itu hamil dan terlihat mengandung.

Kemudian setan berkata kepada Barseso, “Celaka kamu Barseso, bila perbuatanmu itu terungkap. Maukah kamu membunuhnya dan setelah itu kamu bisa bertaubat. Dan apabila keluarganya menanyakan, maka katakan pada meraka bahwa gadis itu dibawa kabur oleh setan yang telah mengganggunya dan kamu tidak kuasa melawannya.”

Maka Barseso masuk ke tempat gadis itu dan membunuhnya, lalu dikuburkan di lerang gunung. Pada saat Barseso mengubur gadis itu, setan datang dan menarik ujung pakaian gadis itu sehingga tidak tertimbun tanah dan nampak. Kemudian Barseso kembali ke kuil dan beribadah, tiba-tiba ketiga saudara gadis itu datang untuk menjenguk adik mereka.

Mereka menanyakan keadaannya, “Wahai Barseso, apa yang telah kamu lakukan terhadap adik kami?” Dia menjawab, “Setan datang dan aku tidak mampu melawannya.” Maka mereka percaya dan pulang. Pada saat malam hari dalam suasana duka, setan datang dalam mimpi saudara gadis itu yang paling besar dan memberitahukan kejadian yang menimpa adiknya. Namun, orang tersebut tidak mempercayai mimpi itu dan meyakininya berasal dari setan. Setelah tiga malam berturut-turut datang dalam mimpi saudara paling besar tadi, namun tidak dihiraukan maka setan mendatangi kakak yang kedua dan ketiga, memberitahukan seperti yang disampaikan kepada kakak yang pertama.

Kemudian ketiganya saling menceritakan apa yang dilihat dalam mimpi mereka dan ternyata sama. Lalu setan mendatangi mereka dan memberitahukan tempat dikuburnya adik mereka dengan ujung pakaiannya yang masih kelihatan. Lalu mereka pergi ke tempat yang ditunjukkan setan dan mendapati apa yang diberitakan olehnya.

Kemudian mereka pulang kepada keluarga dan familinya, lalu mendatangi kuil Barseso dengan membawa linggis dan kapak. Mereka menghancurkan kuil Barseso dan menangkapnya lalu dibawa di hadapan raja. Setan kembali membisiki Barseso, “Kamu membunuhnya kemudian kamu ingkar, akuilah perbuatan itu,” sehingga akhirnya Barseso mengakui perbuatannya. Lalu sang raja menjatuhkan hukuman mati kepadanya dengan disalib di kayu.

Dan sesungguhnya kebanyakan setan bisa masuk dan menggoda orang-orang yang sedikit ilmunya.

Pada saat disalib, setan putih mendatanginya. Lalu setan menawarkan bantuan untuk menyelamatkannya dengan bersujud kepada setan. Barseso menyetujuinya dan bersujud kepadanya. Setelah itu setan pun meninggalkannya dan berujar, “Wahai Barseso! Inilah yang saya kehendaki darimu. Akhirnya kamu mengikutiku dan kafir terhadap Tuhanmu. Sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatanmu dan aku takut terhadap Tuhan semesta alam.” Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 16-17,

“Seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim.”

(Diringkas dari Mashaibul Insan min Makaid syaithan oleh Syaikh al-Maqdisi al-Hanafi, Imam Thabari menyebutkan kisah Barseso ini dalam tafsirnya QS. Al-Hasyr: 16-17 dari jalur Ibnu Mas’ud, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah Juz II)

Ya Allah swt anugerahkanlah rasa takut kepada kami, yaitu takut jika tidak taat kepadaMu dan amal kami tidak diterima olehMu, takut ketika dosa kami tidak diampuni, takut ketika iman dihilangkan dari diri kami, dan takut akan kebodohan dalam agama yang menyesatkan diri ini. Kemudian dengan kasih sayangMu bantu gerakkan kami agar berusaha menjadi lebih baik hari demi hari.

Ketidaktahuanku adalah RahmatMu dan pengetahuan titipanMu adalah kasih sayangMu. Keduanya adalah nikmat dariMu untuk mencari dan memberi. Ingatkanku dariMu segalanya hadir, kepadaMu segala akan kembali. Syukurku sebanyak nikmatMu dan seluas samudera kasihMu.
Aamiin Allahumma Aamiin

Ilmu itu cahaya dan kebodohan itu kegelapan yang menyesatkan, dimulai dengan membaca untuk menggapai cahayaNya

By bienennest Posted in Waktu

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s