Kawan, ada seseorang yang mengatakan bahwa ada tiga kata yang sangat sulit untuk diucapkan atau membutuhkan sebuah energi besar dalam menyampaikannya yaitu, kata-kata MAAF, JUJUR, dan CINTA. Lalu bagaimana menurutmu kawan ? Sepakatkah atau mungkin tidak sepakat sama sekali ? Kita coba bahas satu persatu ya… 
Pertama, kata-kata MAAF
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Asy Syuura: 40)
Ada hal yang begitu spesialnya dari Allah untuk orang yang memberikan maafnya juga tetap berbuat baik ketika ia mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkannya. Hal yang Allah ganti kelak dengan indah, akan perjuangan memberikan maafnya itu. Jadi menurutku MAAF adalah hal yang memang membutuhkan energi besar, sebagai bukti Allah menjaminnya dalam ayat di atas.
Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah bersabda, “Apakah tiada lebih baik saya kabarkan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?” Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau.” (HR. Thabrani)
Apabila ada seorang atau beberapa orang yang masih berlabelkan muslim dan melakukan kesalahan maka ketika kita tidak sanggup membalas dengan adil, maka jauh lebih baik ketika memberikan maaf kita untuknya tanpa sedikitpun mencaci mereka. Ketika kita melihat sesuatu yang kurang menyenangkan hadir pada mereka, yakinlah ia masih menjadi saudara/i kita sesama muslim yang kehormatannya harus kita jaga. Bahkan sangat berhati-hatilah kita dengan setiap kata cacian kita karena itu dapat menjadi bumerang yang mengarah kepada diri kita sendiri.
“Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa) dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam).” (HR. Bukhari)
“Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi)
Pada tulisan sebelumnya sudah diceritakan tentang kondisi orang-orang muslim yang terakhir kali masuk ke dalam surga dengan syafaat Allah melalui perantara Rasulullah. Akan tetapi ternyata ada sebuah hadist yang menjelaskan kelanjutan cerita tersebut.
Apabila orang – orang beriman selamat dari neraka maka mereka ditahan di jembatan antara syurga dan neraka. Mereka saling membalas kedzaliman – kedzaliman di antara mereka di dunia. Hingga mereka dibersihkan dan disucikan maka diizinkan bagi mereka untuk masuk syurga. [ HR. Shahih Bukhari dari Abu Sa'id Al Khudri ].
Atas dasar hadits Abu Sa’id inilah apabila seorang mukmin masih membawa dosa – dosa kepada Allah dan dosa – dosa kepada sesama hamba maka kelak dalam pengadilan Allah maka dosa kepada Allah akan menghantarkan pelakunya di adzab oleh Allah di dalam neraka terlebih dahulu kemudian atas syafaat dan rahmat Nya maka orang mukmin diampuni dosa – dosanya dan terbebas dari adzab neraka. Selanjutnya orang mukmin yang terbebas dan selamat dari nereka setelah di adzab di dalam neraka atas syafaat dan rahmat Allah digiring menuju ke sebuah jembatan yang letaknya diantara syurga dan neraka, di tempat inilah kemudian orang – orang mukmin di datangkan untuk saling membalas kedzaliman – kedzaliman yang pernah dilakukan dahulu di dunia dan belum dimaafkan.
Mereka yang pernah didzalimi akan didatangkan kepada yang mendzalimi. Kemudian diperlihatkan bahwa orang yang mendzaliminya di adzab oleh malaikat adzab atas izin dan perintah Allah. Malaikat adzab ini kemudian yang bertanya kepada orang yang didzalimi, “Apakah engkau memaafkannya ?”
Yang didzalimi selalu menjawab “tidak, tidak dan tidak.”
Malaikat adzab meneruskan menyiksa orang yang mendzalimi dihadapan yang didzalimi dengan pemandangan yang nampak jelas sampai kemudian orang yang didzalimi merasa kasihan dan akhirnya dia memaafkan kedzaliman yang pernah dilakukan orang tersebut kepadanya. Lagi-lagi seseorang yang enggan meminta maaf dan memberikan maafnya di dunia ini tertahan hingga kedzaliman itu termaafkan disana kelak. Keduanya sama-sama tertahan antara surga dan neraka. Bagi yang enggan memaafkan iapun tertahan memasuki surgaNya karena keinginannya melihat saudara/i sesama mukmin merasakan sakit hati yang ia terima di dunia.
Astaghfirullah…
Oleh karenanya Rasulullah sendiri pernah memberikan momen yang mengharukan ketika dirinya mengharapkan kesucian dalam berhubungan dengan sesama manusia, ketika ia merasa waktunya semakin dekat untuk menghadap Allah. Maka Rasulullah berkata ;
”Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan kalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”
Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.
”Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah saw pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah saw mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah saw. Saya merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”
Nabi Muhammad saw menjawab,
”Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.”
Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Thalib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah saw menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.
Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah saw dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan:
”Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini.”
Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata:
”Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.
Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata: ‘
‘Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.”
Mendengar itu langsung Rasulullah saw membuka bajunya di depan para sahabat. Kulit Rasulullah saw tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas. Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Thalib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos.
Tapi, Rasulullah saw langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan. Akhirnya ternyata sahabat yang meminta balasan tersebut tidak berniat memukul beliau, tetapi hanya ingin melihat sesosok Rasul yang sangat ia cinta.
Betapa perlunya kita melestarikan kata-kata maaf di antara kita sesama manusia terlebih sesama mukmin, terlebih betapa lamanya waktu untuk menunggu pembalasan kedzaliman yang masih tertangguhkan maafnya kelak di akhirat. Jadi jangan buat kelangkaan maafmu dan kelangkaan ucapan maaf terhadap orang yang terkena kedzaliman kita entah sengaja ataukah tidak mungkin pula kita ketahui atau bahkan tidak kita ketahuinya.
to be continued part 2 and 3 ^^