Harta itu tak selamanya materi

Pernah suatu ketika melihat tayangan televisi yang menceritakan kehidupan seorang yang bekerja sebagai tukang topeng monyet. Penghasilan sehari-harinya dari upah para penonton atraksi dirinya mengarahkan si monyet untuk melakukan beberapa gerakan-gerakan yang menarik hati anak-anak. Dia hidup bersama anak dan istrinya di sebuah perkampungan pemulung, penghasilannyapun tergolong pada taraf bawah.

Dari ceritanya aku kembali berpikir ternyata masih banyak di luar sana orang-orang yang walaupun berada di bawah garis kemiskinan namun mereka masih dapat berbahagia dengan kondisinya dan juga keluarganya. Keterbatasan yang ada tidak menghaangi dirinya untuk tetap memiliki sebuah keluarga. Ketika melihat kondisi sang istrinya, aku juga mengaguminya yang ikhlas menerima pasangannya dengan bagaimanapun kondisinya. Ternyata di lingkungannya itupun banyak anak-anak yang sudah agak besar bermain riang meskipun tempat tinggalnya tak semegah istana.

Besar atau sedikitnya materi yang seseorang miliki ternyata tak akan mampu menjadi parameter kebahagiaan seseorang. Padahal kebahagiaan itulah yang sejatinya menjadi harta kita. Terkadang banyak orang yang terlupa tujuan mereka mencari materi sebagai sarana mencapai kebahagiaan.

Sekali lagi ku merasa betapa beruntungnya mereka kelak ketika mereka dapat berbahagia dengan segala keterbatasannya di dunia ini, sebab merekalah yang akan lebih dahulu masuk ke dalam surgaNya dan menikmati segala fasilitas yang ada di dalamnya 500 tahun lebih dahulu dibandingkan orang-orang yang memiliki kekayaan melimpah di dunia ini. Betapa adilnya Allah….

Ketika di dunia ini mereka merasakan keterbatasan dibandingkan dengan orang lain yang berada di taraf kehidupan yang tinggi, akhirnya merekalah yang kelak tidak lebih lama berada di padang mahsyar karena merekalah yang lebih dahulu masuk ke dalam surgaNya….

Mungkin itu pula yang membuat Rasulullah tiada pernah ingin menggunakan 1/5 hartanya yang ada di baitul maal untuk keperluan dirinya atau keluarganya dalam bermegah-megah ria di dunia yang fana ini, sebab kesenangan dunia ini begitu sebentar saja jika dibandingkan dengan kenikmatan di surgaNya.

Rasulullah bersabda : Wahai orang-orang fakir apakah aku tidak memberi kabar gembira kepadamu : sesungguhnya orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surga sebelum orang-orang mukmin kaya dengan jarak setengah hari akhirat, yaitu lima ratus tahun.

Usamah meriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda : “Aku berdiri dipintu surga, maka kebanyakkan yang masuk surga adalah orang-orang miskin sedangkan orang-orang kaya masih tertahan(masih dihisab amalnya). Selain penghuni neraka(ahli neraka), mereka telah diperintahkan(langsung) masuk neraka, maka kebanyakkan yang masuk neraka adalah kaum wanita”.

Ketika mengingat hadist di atas kembali mengingat bagaimana lamanya hisab dariNya untuk orang-orang yang sangat kaya, terlebih ketika kekayaannya hasil perampasan hak rakyat kecil seperti bapak tukang monyet tadi. Betapa banyak urusan pertanggungjawaban dirinya atas kesulitan hidup pada kegelisahan seorang ibu yang khawatir tidak mampu memberikan anaknya sesuap nasi, atau ketakutan seorang ayah karena tak mampu membawa anak tercintanya berobat ke rumah sakita karena tidak memiliki biaya.

Ya Allah ya Rahman Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).

Tak terbayangkan ketika menunggu waktu dihisab dengan waktu yang begitu lamanya, sedangkan dalam setiap detiknya tak mampu menutupi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat oleh diri. Bahkan tangan, kaki, mata, juga telinga kita sendiri yang menjadi saksi.

Bersyukurlah… di dunia kita menjadi orang mukmin

Bersyukurlah… di dunia ini kita masih dapat berbahagia meskipun tak menjadi yang paling kaya di seluruh dunia

Bersyukurlah… karena sejatinya harta tak selamanya materi

2 comments on “Harta itu tak selamanya materi

  1. Subhanallah..
    tulisan anda sangat membuka mata saya mengenai materi duniawi.
    ketika saya sedikit berlimpah dan kemudian istri begitu sayang kepada saya, saya pikir memang hartalah yang membuat kita bahagia.
    Namun, begitu saya dihadapkan pada kenyataan semenjak saya mengalami paceklik keuangan, mendadak sontak istri menjadi dingin dan saya menemukan sms2 mesra dari laki2 lain.
    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
    Akhirnya saya paham dan saya putuskan untuk ambil sikap.

    • Alhamdulillah ketika diri ini masih bisa memberi bantuan dalam tulisan yang ringan ini..
      Terkadang kita melihat permasalahan dari sudut padang diri pribadi, padahal jika di komunikasikan boleh jadi ada hal-hal yang tidak diketahui oleh kita. Semoga keputusan yang akan anda ambil memang telah dipikirkan dan diistikharahkan dengan baik, karena boleh jadi bukan salah istri anda sms-sms itu hadir tetapi karena ada di luar sana ada pria yang memang menaruh hati pada istri anda.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s