Suatu hal yang paling dihindari atau ditakuti boleh jadi adalah kematian. Baik itu kita yang meninggalkan atau bahkan kita yang ditinggalkan.
“Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya“(Al-Baqarah : 95)
Bahkan dengan adanya perkiraan kiamat akibat badai matahari pada tahun 2012, Robert Vicino membuat Bunker yang dinyatakan mampu untuk melindungi manusia yang berada di dalamnya dari berbagai bencana seperti perang nuklir, senjata biologis, datangnya Panet X atau Nibiru, badai matahari, pembalikan kutub Bumi, tsunami global, jatuhnya komet atau asteroid, dan meletusnya gunung berapi. Daya tampung Bunker dapat mencapai 200 orang yang dapat ditampung dengan fasilitas rumah sakit, dapur umum, dan segala peralatan yang dibutuhkan. Harga satu bunker US$ 50.000 dan sudah ada 1000 daftar tunggu pembeli bunker.
Luar biasa bukan, fakta yang menunjukan bahwa manusia pasti sangat tidak menginginkan dirinya meninggal atau ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai atau disayanginya. Akan tetapi kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap mahkluk yang hidup di dunia ini. Baik menjadi seseorang yang ditinggalkan atau menjadi seseorang yang ditinggalkan. Kematian itu akan hadir sekalipun kita berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh seperti bukner buatan manusia tersebut. Baik kematian karena bencana, kecelakaan, penyakit, atau bahkan faktor usia.
” Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,… ” (QS. An Nisaa’ : 78)
Hal yang patut dipertanyakan adalah, boleh saja manusia berencana untuk menghindarkan dirinya dari ancaman bencana dengan membeli sebuah kamar dalam bunker profesional tersebut, akan tetapi siapa yang dapat menjamin bahwa setiap bencana dapat terprediksi dengan cepat dan dapat membuat kita selamat menuju sebuah tempat perlindungan ? boleh jadi kita lebih dahulu meninggalkan dunia ini sebelum sempat sampai pada bunker tersebut.
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raf: 34)
Tak akan ada seorang pun yang dapat menghindarkan kematiannya, jika memang sudah waktunya walau hanya satu menit saja. Kematian adalah atas seizin Allah sebagai pencipta manusia, sekalipun manusia itu membunuh dirinya sendiri ketika Allah tidak mengizinkannya untuk meninggal maka tentunya orang tersebut akan kembali hidup. Begitupun sebaliknya sebesar apapun usaha seseorang untuk menghindarkan dirinya dari ketetapan Allah akan kematiannya maka jika Allah sudah menetapkan ia harus meninggal pada saar itu maka hal itu tidak akan mustahil bagi Allah.
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)
Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa kehidupan dunia ini terlalu berat baginya sehingga ada saja percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang atau bahkan sekelompok orang. Akan tetapi usaha bunuh diri yng dilakukan mereka bukanlah cara menunjukan keberaniaan mereka terhadap maut atau kematian, tetapi pada dasarnya mereka mereka tetap sangat memiliki ketakutan yang besar pada saat melakukannya.
Banyak alasan yang dijadikan motif kenapa dirinya atau mereka melakukan tindakan bunuh diri. Contoh alasan yang dapat membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri biasanya karena merasa hidupnya sangat sulit dan tak mampu untuk menahan beban tersebut atau kehilangan hal yang sangat-sangat ia cintai. Banyak kasus sebagai contoh ; ada seorang anak yang gagal lulus ujian akhir melakukan tindakan bunuh diri, karena merasa rendah diri. Contoh lainnya cinta dunia baik itu kekasih (Suami atau Istri), harta, dan jabatan juga dapat memicu tindakan bunuh diri.
Bagi yang memiliki niat untuk membunuh diri, bayangkanlah orang-orang lain yang menyayangi diri kita. Bagaimana ketika mereka tahu bahwa kita meninggal dengan cara tidak hormat seperti itu, bukankah mereka akan sedih ? Bayangkan pula apakah ketika tidak lulus dari ujian akhir membuat seseorang itu tidak dapat mencoba di lain kesempatan, apakah diri kita tidak patut mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi ? Ketika harta atau jabatan lenyap dari genggaman apakah kita tidak dapat mempercayai diri kita sendiri untuk berusaha kembali untuk memperolehnya atau memncari hal-hal lain yang lebih bermakna ? Ketika kekasih hati pergi baik dipanggil oleh yang maha kuasa atau memang sudah tidak lagi dapat berhubungan karena perceriaan, bukankah masih banyak orang lain yang dapat memberikan kasih sayangnya kepada diri kita terlebih kasih sayang Tuhan Semesta alam Allah swt yang tak akan pernah padam.
Intinya adalah janganlah ada niat untuk membunuh diri sendiri, walaupun tiada seorang pun yang mencintai atau memperhatikan diri kita karena kitalah seharusnya yang menjadi seseorang yang mencintai diri kita sendiri. Janganlah ada niat untuk membunuh diri, walaupun kita tidak memiliki kepercayaan dari setiap orang akibat tuduhan atau fitnah apapun, karena diri kita dan Allah yang tahu hal yang sebenarnya dan diri kita pantas mendapat kepercayaan penuh dari diri sendiri. Penilaian orang lain akan berubah pada saat kita tetap berusaha membuktikan pada diri kita sendiri. janganlah kita menjadi sesosok pribadi yang paling jahat. Ya… paling jahat karena tidak dapat memaafkan diri sendiri, menghargai diri seniri, mempercayai diri sendiri, dan menyakiti diri sendiri.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An Nisaa’: 29)
Dari Abu Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka tangannya akan menusuk-nusukkan besi itu ke perutnya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya. Barang siapa meminum racun untuk membunuh dirinya, maka dia meneguk racun tersebut di neraka jahanam kekal di dalamnya. Dan barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya maka dia akan menjatuhkan dirinya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya” (HR Bukhari-Muslim).
Hamba-Ku telah meminta kepada-Ku menyegerakan (kematian) dirinya, maka Aku haramkan surga untuknya (HR Bukhari).
Hal yang terpenting pula janganlah kita membuat seseorang itu berpikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri. Berhati-hatilah dengan setiap tindakan dan ucapan kita terhadap orang lain. Ada kata-kata indah agar kita memperhatikan tindakan kita suapaya tidak membuat orang lain terjerumus kepada tindakan yang menyakiti diri sendiri yaitu, ketika kita tidak dapat memuji seseorang maka janganlah kita menghinanya. Ketika kita tidak mampu membahagiakannya maka janganlah kita membuatnya sedih. Ketika kita tidak dapat memberi kebermanfaatan kepada orang lain maka janganlah membuat bahaya baginya.
Kematian itu bukan akhir dari segalanya tetapi awal dari segalanya…
Bukankah setiap manusia yang sudah meninggal sejak manusia yang pertama kali diciptakan hingga nanti manusia yang terakhir meninggal akan dibangkitkan meskipun jasad kita sudah menjadi atom-atom yang menyebar ke segala penjuru dunia ini ? Entah dia adalah seorang raja, bangsawan, dan orang miskin tetap akan menjalani proses kebangkitan kembali.
Kematian adalah awal perhitungan amal di dunia semasa ia hidup… untuk menuju kekekalan hidup.
Ketika ada yang tidak percaya ada hari kebangkitan atau kehidupan setelah kematian, maka adakah yang dapat menjamin bahwa tidakah ada hari berbangkit tersebut ? adakah seseorang yang benar-benar yakin bahwa dirinya pernah merasakan mati kemudian hidup kembali lalu ingat bahwa kematian adalah sebuah siklus yang selalu berputar tanpa akhir atau adakah dirinya bisa membuktikan bahwa kematian akan mengakhiri segalanya ?
Sebaik-baiknya diri adalah seseorang yang mempersiapkan bekal untuk akhiratnya yang kekal. Karena hidup itu hanya sekali tak kan pernah berulang atau seperti rangkaian siklus yang tak akan pernah berakhir. Adakah seorang yang menguasai sang waktu dan dapat mengaturnya sekehendak dirinya ? Tak akan ada pula yang mampu memberikan kepastian akan jumlah waktu hidupnya, yang hanya sekali saja.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jaatsiyah: 23 & 24).
Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan dan menyatakan bahwa ketika manusia hanya bergerak dalam waktu-waktu hidupnya dengan hawa nafsu membuat dirinya terbuai bahkan tidak akan pernah merasa bahwa sesungguhnya hidupnya sangatlah berharga karena menurut mereka hidup adalah kesempatan bersenang-senang. Mereka mengatakan bahwa kematian adalah akhir dari kesenangan mereka, sehingga waktu hidup mereka digunakan untuk memuaskan hawa nafsunya. Padahal mereka telah menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan karena hidup itu sebagai arena perlombaan siapa yang paling baik amalnya. Paling baik amalnya dapat menjadi paling baik kualitas amalnya juga paling baik dalam jumlahnya atau konsistensinya.
Hidup itu terlalu berharga, jadi berpikirlah untuk mempersiapkan sebaik-baiknya diri kita, entah kita menjadi sosok yang meninggalkan atau seseorang yang ditinggalkan oleh sanak, saudara, kerabat baik, atau seseorang yang kita sayangi. Hargai dan syukuri nikmat hidup ini dan orang lain yang ada di sekitar karena perjalanan kita dengan mereka tak akan dapat diulang dan perjalanan ini pun memiliki batas.
